VK. KANDEWAL

Merupakan ahli komputer dari IBM, yang pertamakali mengenalkan komputer kepada teknisi pemugaran Candi Borobudur. Setelah bantuan IBM berakhir, proses komputerisasi pindah di PTUL (Kebayoran Baru), dan seterusnya pindah ke Pusat Komputer UGM. Beberapa tenaga pemugaran Candi Borobudur diberikan kesempatan mengikuti kuliah di Fakultas Teknik UGM. Beliau turut serta menulis buku seri Pelita B diantaranya (B.8, B.9 dan B.10).

YZERMAN

Adalah orang Belanda yang pada tahun 1885 menemukan kaki asli Candi Borobudur yang telah tertutup oleh kaki candi yang sekarang. Pada dinding kaki asli itu terdapat pahatan-pahatan relief yang tertutup bersama kaki aslinya. Relief yang tertutup kaki candi sekarang adalah relief Karmawibangga yang berjumlah 160 panel.

WILSEN

Adalah sorang juru gambar Zeni Angkatan Darat Belanda. Wilsen ditugaskan oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk menggambar Candi Borobudur beserta reliefnya. Dalam empat tahun tugas itu dapat diselesaikan dengan berbagai gambar bagian bangunan dan 476 lembar gambar reliefnya. Wilsen sendiri berusaha membuat risalah tentang Borobudur, namun oleh pemerintah tugas itu dipercayakan kepada Brumund. Terjadi kesalahfahaman antara pemerintah dengan Brumund ketika risalah tersebut akan diterbitkan. Brumund beranggapan bahwa uraiannya yang sudah siap diterbitkan akan dilengkapi dengan ilustrasi gambar-gambar yang dibuat oleh Wilsen. Sebaliknya, pemerintah berpendapat bahwa uraian dan gambar-yang akan diterbitkan adalah hasil karya Wilsen, sedang uraian Brumund hanya diambil sebagian sebagai pelengkap. Oleh karena kesalahfahaman itu, membuat Brumund tidak setuju sehingga pemerintah memutuskan untuk menyerahkan kepada orang ketiga, yaitu Leemans untuk diolah menjadi monografi yang disempurnakan dengan gambar-gambar Wilsen. Akhirnya, tahun 1873 monografi pertama Borobudur diterbitkan.

WANGSA SAILENDRA

Wangsa atau Dinasti Sailendra adalah dinasti yang berkuasa di Jawa khususnya pada Kerajaan Mataram Kuna Periode Jawa Tengah. Dinasti ini menurunkan raja-raja besar yang memerintahkan pembangunan candi-candi kerajaan berukuran besar seperti Candi Borobudur, Candi Sewu, Candi Kalasan, Candi Mendut, Candi Lumbung dan lain-lain.

Di Indonesia nama Åšailendravamsa dijumpai pertama kali di dalam Prasasti Kalasan dari tahun 778 M dengan sebuatan Åšailendragurubhis, ÅšailendrawaÅ„Å›atilakasya dan Åšailendrarajagurubhis. Pada prasasti lainnya Nama Sailendra juga ditemukan pada prasasti Kelurak dari tahun 782 M dengan sebutan ÅšailendrawaÅ„Å›atilakena, dalam prasasti Abhayagiriwihara dari tahun 792 M dharmmatuÅ„gadewasyaÅ›ailendraprasasti Sojomerto dari sekitar tahun 700 M selendranamah dan prasasti KayumwuÅ„an dari tahun 824 M Å›ailendrawaÅ„Å›atilaka. Sementara itu, di luar Indonesia nama ini ditemukan dalam prasasti Ligor dari tahun 775 M dan prasasti Nalanda. Mengenai asal usul keluarga Åšailendra banyak dipersoalkan oleh beberapa sarjana. Berbagai pendapat telah dikemukakan oleh sejarawan dan arkeologis dari berbagai negara. Ada yang mengatakan bahwa keluarga Åšailendra berasal dari Sumatra, dari India, dan dari Funan.

Majumdar menyampaikan angapannya bahwa keluarga Åšailendra di Nusantara, baik di ÅšrÄ«wijaya (Sumatera) maupun di MdaÅ‹ (Jawa) berasal dari Kalingga(India Selatan). Pendapat yang sama dikemukakan juga oleh Nilakanta Sastri dan Moens. Moens menganggap bahwa keluarga Åšailendra berasal dari India yang menetap di Palembang sebelum kedatangan Dapunta Hyang. Pada tahun 683 Masehi, keluarga ini melarikan diri ke Jawa karena terdesak oleh Dapunta Hyang dengan bala tentaranya.

Menurut beberapa sejarawan, keluarga Åšailendra berasal dari Sumatera yang bermigrasi ke Jawa Tengah setelah Sriwijaya melakukan ekspansi ke tanah Jawa pada abad VII Masehi dengan menyerang kerajaan Tarumanagara dan Ho-ling di Jawa. Serangan Sriwijaya atas Jawa berdasarkan atas Prasasti Kota Kapur yang mencanangkan ekspansi atas Bhumi Jawa yang tidak mau berbhakti kepada Sriwijaya. Ia mengemukakan gagasannya itu didasarkan atas sebutan gelar Dapunta Selendra pada prasasti Sojomerto. Gelar ini ditemukan juga pada prasasti Kedukan Bukit pada nama Dapunta HiyaÅ‹Prasasti Sojomerto dan prasasti Kedukan Bukit merupakan prasasti yang berbahasa Melayu Kuna.

Banyak ahli beranggapan bahwa kerajaan Medang dianggap diperintah oleh dua wangsa yaitu Wangsa Sailendra yang beragama Buddha dan Wangsa Sanjayayang beragama Hindhu Siwa, pendapat ini pertama kali diperkenalkan oleh Bosch. Pada awal era Medang atau Mataram Kuno, wangsa Sailendra cukup dominan di Jawa Tengah. Menurut para ahli sejarah, wangsa Sanjaya awalnya berada di bawah pengaruh kekuasaan wangsa Sailendra. Mengenai persaingan kekuasaan tersebut tidak diketahui secara pasti, akan tetapi kedua-duanya sama-sama berkuasa di Jawa Tengah. Sementara Poerbatjaraka menolak anggapan Bosch mengenai adanya dua wangsa kembar berbeda agama yang saling bersaing ini. Menurutnya hanya ada satu wangsa dan satu kerajaan, yaitu wangsa Sailendra dan Kerajaan Medang. Sanjaya dan keturunannya adalah anggota Sailendra juga. Menurut Boechari, melalui penafsirannya atas Prasasti Sojomerto bahwa wangsa Sailendra pada mulanya memuja Siwa, sebelum Panangkaran beralih keyakinan menjadi penganut Buddha Mahayana. Raja-raja yang berkuasa dari keluarga Sailendra tertera dalam prasasti Ligorprasasti Nalanda maupun prasasti Kelurak, sedangkan raja-raja dari keluarga Sanjaya tertera dalam prasasti Canggal dan prasasti Mantyasih.

Salah satu Maharaja pada Dinasti Sailendra adalah Raja Indra. Pada masa pemerintahan Raja Indra (782-812 M) putera Raja Indra bernama Samaratungga, dinikahkan dengan Dewi Tara, puteri Dharmasetu, Maharaja Sriwijaya. Prasasti Kalasan (778 M) memberikan penjelasan bahwa candi tersebut dibangun untuk menghormati Dewi Tara sebagai Bodhisattva wanita. Pada tahun 790, dikabarkan Sailendra menyerang dan mengalahkan Chenla (Kamboja Selatan), kemudian sempat berkuasa di sana selama beberapa tahun. Candi Borobudur selesai dibangun pada masa pemerintahan raja Samaratungga (812-833 M). Dari hasil pernikahannya dengan Dewi Tara, Samaratungga memiliki putri bernama Pramodhawardhani dan putra bernama Balaputradewa. Balaputra kemudian memerintah di Sriwijaya, maka selain pernah berkuasa di Medang, wangsa Sailendra juga berkuasa di Sriwijaya.

W.O.J. NIEUWENKAMP

Adalah seorang arsitek Belanda yang menulis buku berjudul Fiet Borobudur Meer (Danau Borobudur) pada tahun 1931. Dalam bukunya, W.O.J. Nieuwenkamp berpendapat bahwa di sekitar Candi Borobudur terdapat danau kuna yang menggambarkan Borobudur berdiri di puncak bukit bagaikan bunga teratai di tengah-tengah danau. Candi Borobudur merupakan bangunan agung sebagai tempat Sang Buddha yang akan datang dilahirkan ke dunia ini. Dasar dari teori ini yaitu danau digambarkan ke dalam peta, dan kemudian dihubungkan dengan kondisi daerah sekitar Borobudur. Berdasarkan hal tersebut, daerah sekitar Candi Borobudur cocok apabila terdapat suatu danau. Ia memperkirakan bahwa bahan-bahan hasil letusan Gunung Merapi dapat saja mencapai kaki Pegunungan Menoreh sehingga terjadilah suatu pembendungan. Bendungan ini dapat saja tertoreh lagi menunjuk adanya penorehan muda yang nampak pada lembah- lembah bertebing terjal seperti lembah Sungai Progo dan Sungai Elo. Untuk memperkuat hipotesisnya W.O.J. Nieuwenkamp menunjukkan beberapa nama kampung yang namanya berhubungan dengan danau misalnya terdapat beberapa kampung yang memakai nama “tanjung” dan “segara”, diantaranya Tanjungsari, Bumisegoro, Sabrangrowo, Segaran, dan Wanurejo (mungkin dulu berasal dari Banyurejo).. W.O.J. Nieuwenkamp beranggapan bahwa bentuk Candi Borobudur itu pada dasarnya merupakan bentuk bunga padma (lotus), maka jika dilihat dari atas apa yang tergambar pada tingkatan Kamadhatu dan Rupadhatu dapat disamakan dengan kelopak-kelopak daun bunganya, sedangkan tingkatan Arupadhatu tempat stupa-stupa itu berada dianggap sama dengan putik-putik sarinya. Bahkan jika Candi Borobudur dilihat dari samping akan terlihat sebagai stupa, stupa itu sendiri juga disamakan dengan bunga lotus. Stupa bagian bawah menggambarkan kelopak-kelopak daun bunga dan stupa bagian atas menggambarkan putik-putik sarinya.

VAN BEMMELEN

Adalah ahli geologi Belanda yang banyak melakukan survei awal terhadap vulkanisme dan tektonisme d Indonesia. Karyanya banyak menjadi acuan para ahli geologi setelahnya termasuk ahli-ahli geologi Indonesia saat ini. Nama lengkapnya adalah Reinout Willem van Bemmelen yang lahir di Batavia, Hindia Belanda tanggal 14 April 1904 dan meninggal di Unterpirkach, Austria tanggal 19 November 1983. Pada tahun 1920 sampai 1927 ia belajar teknik pertambangan di Delft UniversityBelanda. Van Bemmelen kemudian mendapatkan PhD pada tahun 1927 dengan studi tentang geologi Cordillera Bética. Selanjutnya dia mengambil kursus di vulkanologi di Naples dan kemudian bekerja dengan survei geologi di Hindia Belanda. Salah satu hasil karyanya, dia berhasil melakukan pemetaan geologi di Jawa dan Sumatera.

Van Bemmelen juga berkonstribusi di bidang kepurbakalaan dengan menyampaikan hipotesisnya mengenai perpindahan kerajaan Mataram Kuna dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Bemmelen berasumsi bahwa letusan tahun 1006 menyebabkan perpindahan pusat kerajaan. Dia menghubungkan letusan tersebut dengan runtuhnya puncak Gunung Merapi ke arah Barat. Letusan besar tersebut juga dijelaskan terjadi akibat pergerakan tektonik sepanjang sesar transversal yang menjadi dasar rangkaian gunung api Ungaran hingga Merapi. Diperkirakan gempa menyertai pergerakan tersebut dan merusak sebagian Candi Borobudur dan Candi Mendut. Aktivitas tektonik ini kemudian diikuti dengan longsoran Gunung Merapi dan letusan besar yang menimbun candi-candi masa Mataram Kuna Periode Jawa Tengah. Letusan yang terjadi juga diperkirakan membendung Sungai Progo dan membentuk perbukitan Gendol di bagian Barat Gunung Merapi.

Hipotesis van Bemmelen tersebut juga diperkuat dengan sumber sejarah berupa prasasti Jawa Kuna. Hal ini dijumpai pada Prasasti Pucangan (1041 M) yang menyampaikan informasi mengenai pralaya atau bencana besar tahun 928 Saka atau 1006 M. Pada masa itu raja yang berkuasa adalah Dharmawangsa Tguh yang memerintah 991-1016 M, sedangkan penggatinya adalah Dharmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa yang memerintah 1019-1042 M.

THOMAS STAMFORD RAFFLES

Sir Thomas Stamford Bingley Raffles lahir di Jamaica6 Juli 1781 dan meninggal di LondonInggris5 Juli 1826 pada usia 44 tahun. Thomas Stamford Raffles adalah Letnan Gubernur Hindia Belanda yang juga dikenal sebagai pendiri negara kota Singapura.

Sewaktu Raffles menjabat sebagai penguasa Hindia Belanda, ia telah mengusahakan banyak hal seperti mengintroduksi otonomi terbatas, menghentikan perdagangan budak, mereformasi sistem pertanahan pemerintah kolonial Belanda, menyelidiki flora dan fauna Indonesia, meneliti tinggalan kuna seperti Candi Borobudur dan Candi PrambananSastra Jawa serta banyak hal lainnya. Tidak hanya itu, demi meneliti dokumen-dokumen sejarah Melayu yang mengilhami pencarian Raffles akan Candi Borobudur, ia pun kemudian belajar sendiri Bahasa Melayu. Hasil penelitiannya di pulau Jawa dituliskannya pada sebuah buku berjudul History of Java, yang menceritakan mengenai sejarah pulau Jawa. Dalam melakukan penelitiannya, Raffles dibantu oleh dua orang asistennya yaitu James Crawfurd dan Kolonel Colin Mackenzie.

Berkaitan dengan Candi Borobudur, hingga saat ini Raffles dianggap sebagai penemu Candi Borobudur. Hal tersebut dimulai ketika dia berkunjung ke Semarang pada tahun 1814. Raffles mendapat laporan bahwa ada sebuah bangunan besar yang dinamakan Candi Borobudur di Desa Bumisegoro, dekat Magelang. Raffles kemudian mengutus H.C. Cornelius, seorang insinyur Belanda yang berpengalaman melakukan eksplorasi kepurbakalaan di Jawa. Cornelius kemudia mempekerjakan lebih kurang 200 orang untuk menebang pohon, membakar semak, dan menggali struktur Candi Borobudur. Setelah pekerjaan diselesaikan, Cornelius kemudian melapor kepada Raffles. Karena peemuan tersebut, Raffles kemudian dianggap sebagai orang pertama yang menemukan dan memulai pemugaran Candi Borobudur.

THEODOOR VAN ERP

Theodoor van Erp yang lahir di Ambon, 26 Maret 1874 merupakan orang yang berjasa memimpin pemugaran Candi Borobudur tahun 1907-1911. Pada awal karirnya sebagai seorang serdadu dia sempat di kirim ke Aceh Utara ketika pecah perang Aceh. Setelah naik pangkat menjadi Letnan I dia kemudian dipindahtugaskan ke Magelang yang merupakan basis militer. Sebagai tentara di bidang teknik, dia ikut merancang bangunan masjid Raya Al Mashun di Medan dan penyelesaian Benteng Pendem di Cilacap. Keterlibatan van Erp dalam pemugaran candi dimulai dengan membantu penyelamatan dan pemelihraan Candi Siwa komplek Candi Prambanan dan Candi Induk Sewu tahun 1902-1903. Selanjutnya dia juga terlibat pada pemugaran Candi Ngawen dan Selogriyo di Magelang dan Candi Pringapus di Temanggung.

Pada tahun 1907 van Erp memulai pekerjaan pemugaran setelah melakukan berbagai persiapan sebelumnya. Setelah menyelesaikan pemugaran Candi Borobudur di tahun 1911 ia mendapatkan berbagai penghargaan di antaranya pada tahun 1937 dan 1951. Pada tahun 1937 pemerintah Belanda menganugerahkan Ridder in de Orde van de Netherlandse Leeuw. Anugerah bintang tersebut diberikan atas jasa luar biasa dala ilmu pengetahuan dan seni, yang dalam hal ini diwakili dengan diselesaikannya pemugaran Candi Borobudur. Adapun pada tanggal 17 September 1951 van Erp menerima gelar Doctor Honoris Causa Fakultas Seni dan Filsafat Universitas Amsterdam.

Selain sebagai ahli pemugaran dan purbakala, van Erp juga merupakan seniman pelukis dengan berbagai karya lukisan dan poster. Theodoor van Erp wafat pada tanggal 7 Mei 1958 dan dimakamkan di Westerveld Cemetery dai Belanda.

Shopping Basket