MESH

merupakan suatu satuan dimensi yang digunakan dalam proses penyaringan atau sieving. Bila suatu bubuk memiliki ukuran -20 +30 mesh, maka bubuk tersebut memiliki butiran yang berukuran dibawah 20 mesh dan diatas 30 mesh.

Semakin besar nilai mesh maka semakin kecil ukuran butiran. Penyaringan dalam satuan Mesh ini berguna dalam proses pembuatan mortar yang diharuskan memiliki serbuk batu dalam ukuran tertentu. Berikut ini adalah beberapa contoh konversi mesh ke milimeter.

Tabel konversi satuan mesh ke milimeter

Mesh Milimeter
No 4 4,76
No 10 2,00
No 25 0,707
No 60 0,250
No 230 0,063

MASTERPLAN JICA

Rencana induk yang disusun oleh JICA (Japan International Cooperation Agency) berdasarkan permintaan dari Pemerintah Indonesia. Hasil dari materplan JICA ini membagi kawasan Borobudur menjadi 5 zona dengan peruntukkannya masing-masing sebagai berikut:

  1. Zona 1, zona pelestarian lingkungan arkeologi (Archaeological Environment Preservation). Zona ini memiliki luas 44,8 ha termasuk zona inti Ngawen dan Gunung Wukir.
  2. Zona 2, zona taman arkeologi (Archaeological Park Zone). Zona ini dibuat sebagai zona penyangga (buffer zone) dan sebagai fasilitas taman dan area layanan untuk pengunjung, memiliki luas 87,1 ha.
  3. Zona 3, zona regulasi penggunaan lahan (Land Use Regulation Zone). Zona ini meliputi keseluruhan 3 desa, yaitu Desa Borobudur, Desa Wanurejo dan Kelurahan Mendut seluas 10,1 km2.
  4. Zona 4, zona pelestarian pemandangan sejarah (Historical Scenery Preservation). Luas total zona 4 ini adalah 26 km2.
  5. Zona 5, zona taman arkeologi nasional (National Archaeological Park Zone). Zona ini seluas 78,5 km2 dalam radius 5 km dari Candi Borobudur.

Masterplan JICA ini dibuat untuk 20 tahun sejak tahun 1979 hingga 1999, sehingga untuk kondisi saat ini sudah tidak sesuai dan perlu disusun kembali masterplankawasan Borobudur.

LOT

adalah ekskavasi yang dilakukan dengan sistem interval setiap kedalaman tertentu, tetapi jika ditemukan kenampakan tanah yang berbeda, misal berupa fitur baik yang sifatnya artifisial maupun alami, maka fitur tersebut diprioritaskan untuk diekskavasi terlebih dahulu.

Temuan-temuan yang ada di dalamnya kemudian dikelompokkan ke dalam satu lot.


LEACHATE

Merupakan air luruhan sampah yang didifinisikan sebagai cairan yang melewati sampah padat. Cairan tersebut mengekstrasi material organik yang ada di dalam sampah kemudian larut dan tersuspensi ke dalam cairan tersebut.

Pada mulanya sampah terdekomposisi secara aerobik, tetapi setelah oksigen didalamnya habis maka mikroorganisme utama yang bekerja adalah mikroorganisme fakultatif anaerob yang menghasilkan gas metan. Karakteristik peruraian secara aerobik adalah timbulnya karbon dioksida, air, asam organik, nitrogen, amoniak dan lain-lain.

Asam organik yang dihasilkan oleh sampah dalam jangka panjang dapat berpotensi melarutkan mineral batuan. Oleh karena itu, pengunjung Candi Borobudur tidak diperbolehkan membawa makanan yang dikawatirkan akan meninggalkan sampah organik pada bangunan candi.

LAPISAN PENYARING

adalah suatu lapisan yang berfungsi untuk menyaring suatu material yang melewatinya sehingga memungkinkan ada material yang tertahan. Lapisan penyaring (filter layer) di Candi Borobudur berfungsi untuk menyaring airtanah yang keluar menuju saluran drainase agar tidak ada tanah bukit yang terbawa aliran air.

Lapisan penyaring ini tersusun atas kerikil dan kerakal yang dibungkus dengan geotekstil, yaitu semacam kain yang sangat kuat, tahan air, fleksibel dan permeable, yang biasa digunakan untuk stabilisasi dan perbaikan tanah kaitannya dengan pekerjaan teknik sipil.

Lapisan penyaring ini berada bawah dinding candi pada setiap sisi di lorong 1 sampai 4. Antar lapisan penyaring berjarak 5 meter dari lapisan penyaring yang lain.

LABORATORIUM

Definisi laboratorium menurut Procter (1981) adalah tempat atau ruangan di mana para ilmuwan bekerja dengan peralatan untuk penyelidikan (penelitian) dan pengujian terhadap suatu bahan atau benda.

Saat ini pengertian laboratorium tidak terbatas pada tempat atau ruang yang tertutup tetapi lebih luas, yakni pada ruang terbuka. Oleh karena itu dikenal istilah laboratorium lapangan atau laboratorium alam sebagai tempat penelitian dan belajar.

Balai Konservasi Borobudur sebagai satu-satunya institusi pemerintah yang melaksanakan kajian konservasi maka dilengkapi dengan fasilitas laboratorium meliputi laboratorium fisik, kimia, biologi dan instrumen.


Salah satu laboratorium di Balai Konservasi Borobudur

KUAT TEKAN

adalah kapasitas dari suatu bahan atau struktur dalam menahan beban yang akan mengurangi ukurannya. Kekuatan tekan dapat diukur dengan memasukkannya ke dalam kurva tegangan-regangan dari data yang didapatkan dari mesin uji.

Beberapa bahan akan patah atau pecah pada batas tekan, beberapa mengalami deformasi yang tidak dapat dikembalikan. Deformasi tertentu dapat dianggap sebagai batas kekuatan tekan, meski belum patah, terutama pada bahan yang tidak dapat kembali ke kondisi semula (irreversible).

Di laboratorim fisik Balai Konservasi Borobudur, parameter kuat tekan menjadi unsur penting untuk menguji kekuatan material seperti batu, bata, kayu, dan bahan-bahan lainnya.

KOROSI

menurut Trethewey dan Chamberlain (1991: 4) adalah penguraian dan kehilangan bahan oleh agresi kimia dan korosi merupakan gejala destruktif yang mempengaruhi hampir semua logam, sedangkan karat (rust) merupakan sebutan yang hanya dikhususkan bagi korosi pada besi.

Maaβ dan Peibker (2011), mengatakan bahwa korosi adalah interaksi logam dengan lingkungannya yang menghasilkan perubahan sifat logam dan mungkin menyebabkan gangguan fungsional yang signifikan pada logam.

Korosi pada logam terutama besi, perunggu dan kuningan merupakan salah satu topik yang diikaji dalam kegiatan kajian konservasi cagar budaya di Balai Konservasi Candi Borobudur.

Shopping Basket