SATUAN PETUGAS KETERTIBAN

Adalah satuan petugas yang merupakan perbantuan tenaga dari PT. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko dan melaksanakan tugas dalam menjaga ketertiban di area zona I Candi Borobudur.

Merupakan bentuk tanggung jawab PT. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko dalam hal ketertiban dan keamanan di Candi Borobudur, berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1992 tentang Pengelolaan Taman Wisata Candi Borobudur dan Taman Wisata Candi Prambanan serta Pengendalian Lingkungan Kawasannya. Selain bantuan tenaga ketertiban, juga terdapat bantuan tenaga kebersihan.

SAMUDRARAKSA

Adalah nama museum yang berlokasi di zona II Taman Wisata Candi Borobudur. Museum Kapal Samudraraksa tersebut diresmikan pada tanggal 31 agustus 2005. Secara garis besar Museum Kapal Samudraraksa menampilkan tema pelayaran kapal Samudraraksa menuju Afrika, sekaligus sebagai rekonstruksi pelayaran dan perdagangan di masa lampau. Koleksi utama sekaligus sebagai masterpiece museum adalah Kapal Samudraraksa lengkap dengan peralatan pendukung selama pelayaran.kapal tersebut merupakan hasil dari keinginan seorang marinir Inggris, Philip Beale yang begitu tertarik dengan relief kapal pada dinding Candi Borobudur pada saat kunjungannya di tahun 1982. Hal tersebut menginspirasi Philip Beale untuk melakukan pelayaran napak tilas kapal Borobudur menuju Afrika. Ekspedisi pelayaran tersebut terlaksana pada tanggal 15 agustus 2003. Philip Beale beserta para awak kapal dari Indonesia berhasil melakukan pelayaran ke Afrika dengan menggunakan Kapal Samudraraksa yang dirancang menyerupai relief kapal pada Candi Borobudur.

SAMPAH

Sampah merupakan pengotor yang berpotensi menyebabakan penurunan tingkat kelestarian Candi Borobudur. Untuk menanggulangi menurunnya tingkat kelestarian Candi Borobudur maka Balai Konservasi Borobudur melakukan monitoring pengotoran sampah pada struktur dan halaman candi. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui volume dan sebaran sampah pada zona I Candi Borobudur. Apabila sudah diketahui volume dan sebarannya maka tidak lanjut dan upaya penanganan sampah akan secara teknis disusun untuk meminimalisir pengaruh sampah pada struktur Candi Borobudur. Pada monitoring pengotoran sampah observasi dilakukan dengan mengumpulkan sampah yang berada pada halaman dan struktur Candi Borobudur. Sampah-sampah yang dibuang oleh wisatawan baik yang berada pada tempat sampah maupun yang berserakan di halaman dikumpulkan ke dalam karung penampungan sampah. Setelah dikumpulkan kemudian dihitung jumlah sampah keseluruhan dengan satuan m3. Sampah yang telah terkumpul kemudian dipisahkan antara sampah mudah terdegradasi dan sampah tidak mudah terdegradasi. Sampah yang mudah terdegradasi terdiri daun-daunan, bangkai hewan, maupun kotoran organik yang berasal dari aktivitas mahkluk hidup. Sedangkan sampah yang tidak mudah terdegradasi adalah sampah yang terdiri dari plastik, kertas, tisu, puntung rokok, permen karet, dll. Hal ini dikarenakan perlakukan dari kedua sampah tersebut berbeda dalam proses selanjutnya. Sampah plastik dinilai lebih mempunyai nilai ekonomis.

SALINITAS

Adalah tingkat garam terlarut dalam air atau tanah. Alat yang digunakan untuk mengukur salinitas disebut salinometer atau refraktometerSalinometer mengukur salinitas dengan mengukur kepadatan dari air yang akan dihitung salinitasnya, bekerja berdasarkan daya hantar listrik, semakin besar salinitas semakin besar pula daya hantar listriknya. Refraktometer merupakan alat pengukur salinitas yang cukup umum digunakan sebagai pengukur indek pembiasan pada cairan yang akan digunakan untuk mengukur kadar garam. Prinsip alat ini adalah memanfaatkan indeks bias cahaya untuk mengetahui tingkat salinitas air. Karena memanfaatkan cahaya maka alat ini harus dipakai ditempat yang dapat banyak cahaya atau lebih baik kalau digunakan di bawah sinar matahari, langsung bisa diambil sewaktu sampel di lapangan. Salinitas merupakan salah satu parameter pengujian air rembesan, air filter layer, air bak kontrol Candi Borobudur dan lingkungannya dalam rangka monitoring Candi Borobudur.

RESTORASI

Adalah pemugaran atau pekerjaan perbaikan; bangunan lama yang usianya sudah lebih dari 50 tahun dikembalikan kepada keadaan semula; umumnya bangunan-bangunan kuno yang dilindungi pemerintah dan sebagai cagar budaya.

Candi Borobudur sudah mengalami dua kali restorasi, yaitu pada tahun 1907 – 1911 dan 1973 – 1983. Restorasi I dipimpin oleh Theodoor van Erp, sedangkan restorasi kedua dilakukan oleh pemerintah Indonesia dan dibantu oleh UNESCO.

REACTIVE MONITORING

Monitoring yang dilakukan oleh UNESCO secara langsung terhadap situs Warisan Dunia apabila terjadi suatu permasalahan. Banyaknya perubahan penggunaan lahan yang terjadi di Kawasan Borobudur mendapatkan perhatian serius setelah adanya reactive monitoring dari World Heritage Centre (WHC) UNESCO pada tahun 2003 dan 2006. Reactive monitoring adalah proses pemantauan keadaan kelestarian Warisan Dunia oleh WHC UNESCO dan biasanya dilakukan bersama ICOMOS (International Council for Monuments and Sites) yaitu badan penasehat WHC. Hasil pemantauan ini menyatakan bahwa pelestarian dan pelindungan terdapat lanskap Kawasan Candi Borobudur sangat diperlukan. Pernyataan ini dinyatakan dalam Mission Report oleh WHC-ICOMOS tahun 2006 yang menyebutkan bahwa perlindungan terhadap lingkungan/lanskap tidak hanya penting untuk pelestarian nilai penting (Outstanding Universal Value) dari warisan dunia saja tetapi juga untuk pembangunan berkelanjutan jangka panjang masyarakat lokal.

POSTULE

Postule merupakan salah satu jenis pelapukan yang terjadi pada permukaan batuan Candi Borobudur yang disebabkan oleh proses kimia dan biologis. Postule terbentuk karena pori-pori batu terisi oleh debu dan spora algae atau moss, kemudian pori tersebut tertutup oleh endapan garam. Spora algae atau moss yang ada di dalam pori tumbuh. Pertumbuhan organisme tersebut akan mendesak dinding pori dan mendesak permukaan endapan garam sehingga akan membentuk semacam bisul pada permukaan batuan. Bentuk seperti bisul inilah yang disebut postule. Dan postul yang pecah dan membentuk lubang pori yang berukuran lebih besar itu disebut alveol.

PH

Adalah derajat keasaman yang digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman atau kebasaan yang dimiliki oleh suatu larutan. Ia didefinisikan sebagai kologaritma aktivitas ion hidrogen (H+) yang terlarut. Koefisien aktivitas ion hidrogen tidak dapat diukur secara eksperimental, sehingga nilainya didasarkan pada perhitungan teoritis. Skala pH bukanlah skala absolut. Ia bersifat relatif terhadap sekumpulan larutan standar yang pH-nya ditentukan berdasarkan persetujuan internasional. Air murni bersifat netral, dengan pH-nya pada suhu 25 °C ditetapkan sebagai 7,0. Larutan dengan pH kurang daripada tujuh disebut bersifat asam, dan larutan dengan pH lebih daripada tujuh dikatakan bersifat basa atau alkali. Air merupakan faktor yang sangat mempengaruhi dalam pelestarian cagar budaya, termasuk Candi Borobudur yang berada di lingkungan terbuka. Air yang bersifat terlalu asam (pH rendah) dan bersifat terlalu basa (pH tinggi) dapat menyebabkan pelapukan batu candi.