ALAMI

adalah hal yang berkaitan dengan alam atau bersifat alam. Bahan-bahan alami yang dipergunakan dalam suatu tindakan konservasi bersumber dari alam atau berkaitan dengan alam. Adanya sifat alami pada bahan menyebabkan tindakan konservasi yang dilakukan akan lebih aman dan efisien. Saat ini berkembang tren untuk memanfaatkan bahan-bahan alami dalam kegiatan konservasi, atau mengatur kondisi lingkungan yang alami agar cagar budaya dapat bertahan lebih lama.

Demikian juga dalam pemeliharaan Candi Borobudur, cara-cara alami lebih dipilih untuk digunakan. Pembersihan organisme yang dahulu menggunakan bahan kimia, selanjutnya diganti dengan cara manual menggunakan alat yang aman. Metode-metode konservasi baru yang mengedepankan bahan dan cara alami terus diteliti dan dikembangkana sehingga dapat diterapkan di Candi Borobudur dan cagar budaya lainnya secara efektif dan aman.

AIRTANAH

adalah air yang terdapat dalam lapisan tanah atau bebatuan di bawah permukaan tanah. Air hujan yang jatuh di teras Candi Borobudur akan meresap masuk ke dalam tanah bukit menjadi airtanah, karena batu candi di bagian ini tidak mempunyai lapis kedap air. Airtanah di bawah candi sebagian akan keluar melalui saluran yang telah dipasang lapisan penyaring (filter layer) yang dirancang pada saat pemugaran, sedang sebagian lagi akan tetap tinggal sebagai airtanah untuk jangka waktu tertentu.

ABU

adalah partikel halus hasil pembakaran sempurna bahan-bahan organik (hewan, tumbuh-tumbuhan, dan manusia) atau bahan anorganik mirip debu hasil letusan gunung berapi, sisa yang tinggal setelah suatu barang mengalami pembakaran lengkap. Peristiwa bencana alam erupsi Gunung Merapi tahun 2010 dan erupsi Gunung Kelud tahun 2014 menyebabkan Candi Borobudur tertutup oleh abu. Abu vulkanik merupakan material hasil aktivitas vulkanik pada gunung api. Material tersebut disemburkan ke udara saat gunung api sedang berada pada tahap erupsi. Abu vulkanik juga disebut sebagai material piroklastik dengan ukuran butir berupa pasir hingga abu yang halus. Timbunan abu vulkanik pada Kawasan Borobudur diakibatkan oleh arah dan kecepatan angin terhadap puncak kepundan gunung api.

Berdasarkan hasil analisis SEM (scanning electron microscope) partikel abu vulkanik yang menerpa Kawasan Borobudur dalam kurun waktu tahun 2010 dan 2014 dilaporkan memiliki bentuk partikel yang runcing. Bentuk partikel tersebut dinilai cukup membahayakan bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan. Hal ini karena partikel abu yang runcing apabila terdeposit dengan jumlah yang besar pada saluran pernafasan dapat mengakibatkan infeksi saluran pernafasan. Secara lebih mendetail ukuran partikel abu vulkanik yang menerpa Candi Borobudur, Candi Mendut, dan Candi Pawon adalah 0,240 hingga 15,2 mikrometer.


Foto SEM abu vulkanik erupsi Gunung Merapi tahun 2010.


Foto SEM abu vulkanik erupsi Gunung Kelud tahun 2014.


Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, timbunan abu vulkanik Gunung Merapi pada struktur Candi Borobudur pada tahun 2010 memiliki kadar keasaman 4 – 5, ketebalannya mencapai 2,5 cm dengan volume keseluruhan lebih kurang 57,8 m3. Adapun timbunan abu vulkanik Gunung Kelud pada struktur Candi Borobudur pada tahun 2014 memiliki kadar keasaman 5 – 6, ketebalannya mencapai 0,5 cm dengan volume keseluruhan lebih kurang 3,87 m3.


Timbunan abu vulkanik Gunung Merapi tahun 2010 di Candi Borobudur


Timbunan abu vulkanik Gunung Kelud tahun 2014 di Candi Borobudur


Berdasarkan hasil analisis menggunakan XRF (x-ray fluoresence), abu vulkanik memiliki komposisi silika (SiO2) dan alumunim (Al) yang tinggi, sehingga prosedur pembersihan kering dan basah pada batu candi harus segera diberlakukan untuk menghindari dampak kerusakannya.

Shopping Basket