BOM

adalah sejenis bahan peledak yang pernah meledak di Candi Borobudur dan menghancurkan 11 stupa dan arca. Dua diantaranya tidak dapat direkonstruksi kembali. Peristiwa tersebut terjadi pada hari Senin tanggal 21 Januari tahun 1985. Bom tersebut meledak pada sekitar pukul 01.30 – 03.30 WIB sebanyak 9 kali. Ledakan tersebut kemudian merusak struktur stupa teras termasuk arca Buddha yang berada didalamnya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan dan persidangan orang tidak bertanggungjawab tersebut memasang 13 bom pada lantai VIII – X yang merupakan area stupa teras dengan barisan stupa berlubang yang memiliki arca didalamnya. Dari ketigabelas bom yang dipasang 9 di antaranya meledak dan 4 bom berhasil ditemukan dan dijinakkan setelah ledakan.


Dampak kerusakan dari peledakan bom tersebut di rasa parah, karena batu-batu yang terkena ledakan tersebut mengalami kerusakan fisik berupa gempil, pecah, dan hancur. Bahkan salah satu arca yang terkena ledakan tidak bisa lagi dilakukan upaya konservasi karena bagia-bagiannya sudah hancur menjadi fragmen-fragmen kecil. Setelah ledakan tersebut upaya awal yang dilakukan oleh Proyek Konservasi Candi Borobudur adalah melakukan pengukuran stabilitas struktur pada area Arupadhatu. Upaya konservasi selanjutnya adalah melakukan penyusunan kembali bagian struktur stupa teras sesuai aslinya.

Penyusunan kembali tersebut diawali dengan membandingkan stupa yang meledak dengan dokumentasi foto pada saat pemugaran. Setelah dapat disusuncobakan kemudian batu penyusun stupa teras dikembalikan pada posisi aslinya dengan menggunakan teknik penyambingan antar batu.


Stupa yang rusak akibat ledakan bom

BIOLOGI

merupakan cabang ilmu alam yang mempelajari tentang mahluk hidup. Biologi menjadi salah satu penunjang dalam pelestarian cagar budaya. Di dunia saat ini telah berkembang bidang ilmu konservasi (conservation science), adalah ilmu yang memandang pemeliharan, perawatan, dan pengawetan cagar budaya dari sudut pandang ilmu alam. Dimana ilmu biologi menjadi salah satu ilmu dasar yang mendukung berkembangnya ilmu tersebut.

Selain itu saat ini juga berkembang cabang ilmu bioarkeologi. Bioarkeologi adalah ilmu mempelajari rangka manusia dalam konteks arkeologi. Ilmu baru ini menjadi penghubung untuk memahami gaya hidup dan adaptasi yang dilakukan oleh masyarakat masa lampau. Studi bioarkeologi berhubungan dengan tiga aspek penting yakni pendekatan pada tingkat populasi, budaya dan beragam indicator tekanan yang berpola pada temuan rangka manusia.

Ahli bioarkeologi bekerjasama dengan ahli arkeologi melakukan ekskavasi sisa rangka manusia untuk mempelajari trauma, epidemik, kekurangan gizi dan penyakit-penyakit infeksi lainya.

BIOFILMS

adalah komunitas mikroorganisme yang berada dalam substrat EPS (Extracellular Polymeric Substances) dan menempel batuan cagar budaya. Matriks EPS berfungsi untuk menempelkan (anchoring) dan melindungi agregat mikroorganisme, memiliki kandungan dominan molekul gula anionic, pigmen, protein, asam nukleat, lipiddebris sel mati, air, dan partikel udara.

Biofilm dapat berfungsi sebagai pelindung bagi mikroorganisme dikarenakan EPS yang terdapat pada biofilm membentuk batasan (physical barrier) sehingga tidak sembarang senyawa dapat masuk ke dalam komunitas mikroorganisme, seperti senyawa antimikroba. Batasan fisik (physical barrier) ini juga melindungi mikroorganisme dari sinar UV serta dehidrasi.

Keberadaan biofilm pada batuan Candi Borobudur dapat menimbulkan dampak secara estetik, kimia dan fisik batuan candi. Pembentukan biofilm meningkatkan serangan mikroba pada batu dengan cara melemahkan ikatan antar mineral. Biofilm dapat merubah ukuran pori, kerapatan masa, kandungan air, kekerasan permukaan pada batuan candi. Selain itu, biofilm juga menyebabkan perubahan warna (discolouration) pada permukaan batu.

Peristiwa tersebut disebabkan karena pigmen yang dihasilkan oleh mikroba. Daerah yang terdampak diskolorisasi menyerap cahaya matahari lebih banyak daripada daerah yang lain pada batu, sehingga dapat meningkatkan physical stress. Proses tersebut dipicu oleh adanya peristiwa kontraksi dan ekspansi akibat adanya perubahan temperatur.

BIODETERIOGEN

adalah organisme yang dapat menyebabkan perubahan material cagar budaya yang tidak diinginkan. Prosesnya disebut dengan biodeteriorasi. Biodeteriogen dapat berupa algae, lichens, lumut, jamur, dan tanaman tingkat tinggi.

Biodeteriogen dapat menyebabkan kerusakan baik secara mekanikal maupun struktural. Kerusakan mekanikal dan struktural biasanya disebabkan oleh adanya penetrasi akar dari tanaman. Sedangkan mikroorganisme seperti algae dan lumut dapat menyebabkan terjadinya perubahan warna (diskolorisasi).


Biodeteriorasi batuan dapat dikategorikan menjadi tiga bagian, yaitu biofisik, biokemikal, dan kerusakan estetis. Ketiga proses tersebut dapat berlangsung terpisah maupun berkelanjutan tergantung pada komposisi batuan, kondisi lingkungan, dan biodeteriogen sendiri.

Deteriorasi biofisik batuan terjadi akibat adanya tekanan pada daerah permukaan batuan yang disebabkan oleh pertumbuhan atau pergerakan bagian organisme pada batu, seperti hifa dan system perakaran. Hifa dan system perakaran menekan masuk ke dalam batuan melalui celah yang sudah terbentuk (crack), menyebabkan permukaan batuan stress dan akhirnya menimbulkan kerusakan fisik, seperti terjadinya fragmentasi batuan candi.


Deteriorasi biokemikal dihasilkan karena adanya proses asimilasi. Organisme mengambil dan menggunakan nutrisi pada permukaan batuan dan selanjutnya organisme menghasilkan metabolit yang dapat bereaksi dengan permukaan batuan secara kimiawi.

Deteriorasi estetis disebabkan karena adanya pertumbuhan populasi biologis di permukaan batuan yang dapat merubah warna permukaan batuan. Seperti adanya pembentukan patina algae pada permukaan batuan sehingga menyebabkan permukaan berubah warna dari abu-abu menjadi hijau pekat.

BIMBINGAN TEKNIS

atau disingkat dengan Bimtek adalah kegiatan yang diperuntukkan untuk memberikan materi pelajaran, bantuan, latihan dan tuntunan untuk menyelesaikan persoalan/masalah yang bersifat teknis. Dalam hal pemugaran dan konservasi suatu cagar budaya juga diperlukan bimbingan teknis.

Balai Konservasi Borobudur menyelenggarakan Bimbingan Teknis untuk tenaga konservasi dan pemugaran candi maupun cagar budaya lainnya.

ARTEFAK

adalah semua benda yang diubah atau dibuat oleh manusia dari bahan-bahan alam untuk mendukung kehidupan manusia. Contoh artefak yang ditemukan di daerah Candi Borobudur adalah stupika dan gerabah. Bagian-bagian Candi Borobudur juga termasuk artefak.

ARSIP PEMUGARAN BOROBUDUR

adalah arsip yang terkait dengan pemugaran candi Borobudur. Arsip tersebut tersimpan di Balai Konservasi Borobudur. Ada 2 (dua) jenis arsip pemugaran Borobudur, yaitu arsip pemugaran pertama (1907 – 1911) dan arsip pemugaran kedua (1973 – 1983). Arsip pemugaran pertama terdiri dari 4 dokumen (buku), yaitu:

  1. Beschrijving van BARABUDUR (BARABUDUR I), karangan N.J. Krom dan T. van Erp terbit pada tahun 1931.
  2. Beschrijving van BARABUDUR (BARABUDUR II), karangan N.J. Krom dan T. van Erp terbit pada tahun 1931.
  3. Beschrijving van BARABUDUR (BARABUDUR III), karangan N.J. Krom dan T. van Erp terbit pada tahun 1931.
  4. Beschrijving Van BARABUDUR karangan N.J. Krom dan T. Van Erp terbit pada tahun 1931.

Buku BARABUDUR IBARABUDUR II dan BARABUDUR III berisi foto-foto kondisi Candi Borobudur sebelum dipugar dan kondisi Candi Borobudur setelah dipugar pada masa pemugaran pertama. Sedangkan buku Beschrijving Van BARABUDUR berisi informasi/tulisan mengenai buku BARABUDUR I, II, dan III.


Sedangkan arsip pemugaran kedua terdiri beberapa jenis dokumen/gambar/kalkir/film/foto yang merupakan rekaman data peristiwa pada masa pemugaran kedua. Jenis-jenis arsip tersebut adalah:

  1. Foto kegiatan pemugaran Candi Borobudur. Dokumen foto pemugaran Candi Borobudur berjumlah 71.851 lembar, ukuran 3R, baik yang berwarna maupun hitam putih
  2. Negatif Film. Negatif film atau klise dokumentasi pemugaran kedua terdiri dari beberapa ukuran, yaitu 3,5 x 2,5 cm, 5 x 5 cm dan 8,5 x 6 cm. Jumlah keseluruhan negatif film adalah 65.741 lembar.
  3. Positif Slide. Positif film adalah negative film dengan ukuran gambar 2,5 x 3,5 cm yang berjumlah 13.512 keping. Positif film berisi obyek Candi Borobudur, proses pemugaran kedua, dan kegiatan-kegiatan selama proses pemugaran kedua.
  4. Negatif Kaca. Negatif kaca adalah produk awal dalam dunia fotografi (tahun 1870-an) sebelum ditemukan negatif film dari bahan seluloid. Negatif kaca berupa kaca persegi yang dipermukaannnya dilapisin gelatin. Arsip ini sangat penting bagi Balai Konservasi Borobudur karena di Indonesia hanya tiga tempat yang memiliki arsip serupa. Negatif kaca yang ada berukuran 9 x 12 cm, tebal 2 mm dan berjumlah 7.024 keping.
  5. Film Seluloid 16 mm. Balai Konservasi Borobudur juga memiliki beberapa arsip film bersejarah berupa rol film seluloid. Karena kondisi film seluloid tersebut, sampai saat ini belum bisa dibaca dan diketahui isi dari film seluloid tersebut.
  6. Gambar dan Peta Kalkir. Gambar dan peta kalkir yang ada di Balai Konservasi Borobudur berjumlah 6.043 lembar. Kondisi gambar dan peta kalkir dalam beragam bentuk. Besarnya kertas kalkir mulai dari A0 hingga ukuran A4, bahkan ada yang melebihi ukuran A0.
  7. Dokumen buku Pelita. Buku pelita adalah buku yang berisi laporan proyek pemugaran Borobudur kedua yang telah diterbitkan dalam 33 seri, mulai dari seri A hingga seri CC.

ANCAMAN

adalah setiap usaha dan kegiatan dengan segala bentuknya baik yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri yang dinilai dapat berpotensi membahayakan kelangsungan berfungsinya Obyek Vital Nasional. Sebagai Cagar Budaya, Warisan Budaya Dunia, maupun Obyek Vital Nasional, Candi Borobudur sangat rawan dari ancaman-ancaman yang ada diantaranya adalah ancaman terorisme (bom) seperti yang pernah terjadi pada tahun 1985, ancaman adanya aksi unjuk rasa yang dapat meresahkan pengunjung, maupun ancaman bahaya kebakaran yang terjadi di area Candi Borobudur.

ANASTILOSIS

adalah istilah arkeologi yang merujuk kepada teknik rekonstruksi atau pemugaran reruntuhan bangunan, di mana sebisa mungkin elemen-elemen arsitektural asli digunakan semaksimal mungkin dalam bangunan yang dipugar. Istilah ini juga kadang digunakan untuk merujuk upaya rekonstruksi serupa untuk menyatukan kembali pecahan tembikar atau keramik yang sudah pecah, atau benda-benda kecil lainnya. Metode anastilosis juga digunakan dalam pemugaran Candi Borobudur.

Shopping Basket