TANAH DASAR

Candi Borobudur didirikan pada sebuah bukit yang sekaligus berfungsi sebagai tanah dasar (fondasi candi). Tanah dasar Candi Borobudur dibagi menjadi 2, yaitu tanah urug dan tanah asli pembentuk bukit. Tanah inilah yang membentuk lapisan tanah dasar Candi Borobudur. Tanah asli merupakan tanah yang membentuk bukit asli. Dalam penelitiannya, Sampurno (1969) dalam buku Pelita Borobudur berjudul Penelitian Tanah Dasar Candi Borobudur membagi tanah asli menjadi 3 berdasarkan intensitas pelapukannya, yaitu horison A (pasir lempungan), horison B (lempung pasiran), dan horison C (pasir tufa). Pembagian horison ini juga didasarkan pada sifat fisika dan mekanika yang dapat dibedakan dengan jelas pada tiap-tiap horizon. Sedangkan tanah urug merupakan tanah yang sengaja dibuat untuk tujuan pembangunan Candi Borobudur dan bentuknya pun disesuaikan dengan bentuk bangunan candi. Tanah ini ditambahkan di atas tanah asli sebagai pengisi dan pembentuk morfologi bangunan candi. Ketebalan tanah urug ini tidak seragam walaupun terletak pada lantai yang sama, yaitu antara 0,5 – 8,5 m. Tanah urug ini tidak homogen, karena terdiri dari campuran tanah, pasir, kerikil, dan pecahan batu andesit.

TABEL

Adalah daftar yang berisi ikhtisar sejumlah data informasi, biasanya berupa kata-kata dan bilangan yg tersusun secara bersistem, urut ke bawah dalam lajur dan deret tertentu dengan garis pembatas sehingga dapat dengan mudah disimak. Tabel banyak digunakan untuk mencatat data-data monitoring yang sangat banyak, karena diamati secara rutin dalam waktu yang lama. Termasuk data monitoring Candi Borobudur. Pencatatan dan penyajian data dalam tabel akan memudahkan dalam melakukan analisis.

SUMUR RESAPAN

Adalah suatu rekayasa teknik konservasi air berupa bangunan yang dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai bentuk sumur gali dengan kedalaman tertentu yang berfungsi sebagai tempat menampung air hujan yang jatuh dan meresapkannya ke dalam tanah. Air hujan yang jatuh di Candi Borobudur akan dialirkan lewat saluran drainase sampai pada akhirnya masuk ke sumur resapan. Candi Borobudur memiliki 7 sumur resapan yang letaknya berada di lembah bukit.

SUHU = TEMPERATUR

Adalah ukuran kuantitatif terhadap panas dan dingin dari suatu benda atau ruang. Suhu menunjukkan derajat panas benda. Secara sederhana, semakin tinggi suhu suatu benda, semakin panas benda tersebut. Secara mikroskopis, suhu menunjukkan energi yang dimiliki oleh suatu benda. Setiap atom dalam suatu benda masing-masing bergerak, baik itu dalam bentuk perpindahan maupun gerakan di tempat getaran. Makin tingginya energi atom-atom penyusun benda, makin tinggi suhu benda tersebut.

Suhu merupakan salah satu parameter lingkungan yang penting untuk diamati dalam kegiatan pelestarian cagar budaya. Kondisi lingkungan di Candi Borobudur (termasuk suhu) dimonitor secara rutin di stasiun klimatologi.

Suhu juga disebut temperatur yang diukur dengan alat termometer. Empat macam termometer yang paling dikenal adalah Celsius, Reaumur, Fahrenheit dan Kelvin. Perbandingan antara satu jenis termometer dengan termometer lainnya mengikuti:

C:R:(F-32) = 5:4:9

K = C + 273.(derajat)

Secara umum perbandingan skala masing-masing dapat dilihat pada tabel berikut:

Perbandingan beberapa skala pengukuran suhu

AIR Celsius Reamur Fahrenheit Kelvin
Titik didih 100 80 212 373
Titik beku 0 0 32 273
Selisih kedua titik 100 80 180 100
Perbandingan 5 4 9 5

STUPIKA

Adalah replika stupa berukuran kecil. Biasanya terbuat dari tanah yang tidak dibakar dan memiliki sebuah atau lebih tablet berisi mantra agama Buddha atau naskah di bagian dalamnya. Stupika banyak ditemukan ketika dilakukan ekskavasi di halaman Candi Borobudur.

STRUKTUR = STRUCTURE

Adalah cara sesuatu disusun atau dibangun; susunan; bangunan; (dalam ilmu bangunan) merupakan sarana untuk menyalurkan beban dan akibat penggunaan dan atau kehadiran bangunan di dalam/di atas tanah; ukuran, skala, bentuk, proporsi, dan morfologi merupakan istilah yang biasa ditemukan dalam perbendaharaan kata perancang struktur.