BERINGIN

adalah salah satu pohon yang terpahatkan pada relief Candi Borobudur. Pohon ini juga terdapat pada zona 1, sisi Barat Daya. Nama ilmiahnya adalah Ficus benyamina.

Beringin adalah tumbuhan jenis pohon besar memiliki tajuk yang sangat rindang, memiliki sulur dan akar yang menjalar kemana-mana. Beringin dapat tumbuh hingga mencapai tinggi 20 – 25 meter. Berakar tunggang, batang berbentuk bulat dan tegak, pada bagian batang akan tumbuh akar gantung yang berfungsi untuk respirasi, percabangan simpodial.

Daun berbentuk oval, pangkal daun tumpul pada bagian tepi merata dan halus. Bunga tunggal berbentuk silindris, kelopak bunga berbentuk seperti corong, bunga muncul dari ketiak daun. Buah beringin berbentuk bulat kecil dengan diameter 0,5 – 1 cm, ketika muda berwarna hijau setelah tua berubah menjadi merah. Biji berbentuk bulat keras dan berwana putih.

BATANG

adalah bagian utama tumbuhan yang ada di atas tanah dan mendukung bagian-bagian lain dari tumbuhan, yakni daun, bunga dan buah. Batang memiliki ruas dan antar ruas. Pada ruas akan muncul bunga atau tunas daun. Pada umumnya, bentuk penampang melintang batang dibedakan menjadi tiga, yaitu: bulat, persegi, dan pipih.

Batang tumbuhan yang berbentuk bulat, misalnya pada tumbuhan bambu dan kelapa. Batang yang berbentuk segi empat, misalnya pada tumbuhan iler dan markisa. Batang yang segitiga, misalnya pada tumbuhan rumput teki. Batang yang berbentuk pipih, misalnya pada tumbuhan kaktus.

Tumbuhan yang ditanam di sekitar Candi Borobudur umumnya memiliki batang berbentuk bulat.

BAMBU

merupakan salah tumbuhan terpahatkan pada relief Candi Borobudur (Siswanto, 1999). Bambu juga ditanam pada zona 1 Candi Borobudur sebagai realisasi dari tumbuhan yang terpahatkan pada relief candi. Adapun jenis bambu yang ditanam pada zona 1 Candi Borobudur adalah bambu hias, kuning, jawa, kodok, wulung dan bambu ampel.

Bambu adalah tanaman jenis rumput-rumputan dengan rongga dan ruas pada batangnya. Bambu memiliki banyak tipe. Di dunia ini bambu merupakan salah satu tanaman dengan pertumbuhan paling cepat. Karena memiliki sistem rhizoma-dependen unik, dalam sehari bambu dapat tumbuh sepanjang 60 cm bahkan lebih, tergantung pada kondisi tanah dan klimatologi lingkungannya.

Bagian pangkal akar rimpang bambu lebih sempit daripada bagian ujung dan setiap ruas memiliki kuncup dan akar. Kuncup pada akar berkembang menjadi rebung atau tunas yang kemudian memanjat dan akhirnya menghasilkan buluh.

ASAM JAWA

merupakan tumbuhan yang terpahatkan pada relief Candi Borobudur dan ditanam pada halaman candi pada sisi Timur Laut dan Barat Laut. Asam Jawa memiliki nama ilmiah Tamaradus indica.

Asam Jawa merupakan pohon yang diameternya dapat mencapai 1 – 2 meter, kulit batang berwarna coklat dan beralur ke arah vertikal serta tekstur permukaan kulit pecah-pecah. Ukuran daun kecil-kecil, menyirip berselang-seling. Buah berbentuk memanjang, daging buah berwana putih kehijauan ketika muda dan berubah menjadi merah kecoklatan atau hitam ketika masak. Rasa buahnya sangat asam dan sedikit manis. Dalam satu buah terdapat beberapa biji yang berwarna coklat berkulit keras.

ANGSANA

atau dikenal sebagai sono kembang dengan nama latin Pterocarpus indica merupakan tanaman peneduh dengan tajuk lebat berbentuk kubah serta cabang-cabangnya yang merunduk hingga dekat tanah. Tinggi pohon angsana dapat mencapai 10 – 40 m. Daun majemuk dengan 5 – 11 anak daun, bentuk daun bulat telur memanjang, ujungnya meruncing, tumpul, mengkilat, panjangnya 4 – 10 cm, lebar 2,5 – 5 cm, anak tangkai lebih kurang 0,5 – 1,5 cm. Bunga angsana majemuk tandan, yang terletak di ujung ranting atau muncul dari ketiak daun.

Akar pohon angsana merupakan akar papan atau akar banir, yaitu bentuk akar menyerupai papan yang tumbuh pada bagian atas akar. Akar ini sangat kuat yang berfungsi untuk menopang pohon. Namun pohon ini akan meranggas saat musim kemarau. Oleh karena itu pohon angsana ini hanya ditanam pada sisi Barat Laut dan Barat Daya halaman Candi Borobudur.

ALGAE

Algae adalah tumbuhan tingkat rendah yang bersifat autotrof, yang tubuhnya belum terdeferensiasi menjadi akar batang dan daun. Oleh karena itu dulu algaedimasukan ke dalam klasifikasi tumbuhan berthalus atau thalophyta. Sedangkan yang dimaksud autotrof adalah tumbuhan yang mampu membuat makanannya sendiri melalui proses fotosintesis dengan bantuan sinar matahari. Algae dapat uniseluller (tubuhnya terdiri dari satu sel) maupun multiseluler (tubuhnya terdiri dari banyak sel). Selain klorofil yang berwarna hijau, algae juga dapat memiliki pigmen lain, yakni fikoeritrin yang berwarna merah dan fikosianin yang berwarna hijau. Hal ini yang menyebabkan kenampakan warna algae yang bermacam-macam ada algae hitam, merah, hijau, biru hijau dan sebagainya.

Algae merupakan salah satu organisme yang menyebabkan pelapukan pada batu Candi Borobudur. Proses pelapukan yang disebabkan oleh algae adalah pada saat musim penghujan, dan pada musim kemarau algae mengering kemudian mati. Setelah algae mati, koloni algae tersebut akan mengelupas dari permukaan batuan. Pada saat mengelupas tersebut, mineral yang ada pada permukaan batuan ikut mengelupas. Jenis algae yang paling dominan tumbuh pada permukaan batu candi adalah jenis cyanophyta.

ALAMANDA

adalah tanaman hias yang banyak ditanam pada lereng bukit Candi Borobudur pada sisi Timur dan Selatan. Alamanda memiliki nama ilmiah Allamanda cathathica, masyarakat mengenalnya sebagai bunga terompet emas, bunga lonceng kuning. Alamanda tumbuh merambat, termasuk tanaman perdu berkayu yang tingginya dapat mencapai 2 meter. Selain karena bunganya yang indah, tanaman ini hijau sepanjang tahun serta tumbuh baik pada daerah tebing yang terbuka. Alamanda memiliki akar tunggang yang kuat serta memiliki bentuk daun lancip di ujung dengan permukaan yang kasar panjang 6-16 cm dan lebar 2-5 cm. Bentuk daun allamanda ini memiliki kemampuan menahan air hujan lebih lama serta sistem perakaran yang kuat tersebut diharapkan dapat mencegah erosi lereng bukit Candi Borobudur.


Alamanda (Allamanda cathathica) di lereng sisi Timur zona 1 Candi Borobudur

AKAR

merupakan bagian tubuh tumbuhan yang umumnya berada dalam tanah. Akar berfungsi sebagai penyokong batang tumbuhan, tempat melekatnya tumbuhan pada media atau tanah, menyerap garam mineral dan air melalui bulu-bulu akar, adakalanya akar berfungsi sebagai tempat penyimpanan makanan cadangan, misalnya wortel dan ketela pohon. Pada tanaman tertentu, akar berfungsi untuk pernapasan seperti pada tumbuhan bakau. Terkadang akar juga berfungsi sebagai alat perkembangbiakan vegetatif pada tumbuhan tertentu. Ada tiga tipe akar yakni akar serabut, akar tunggang dan akar adventif. Terkait dengan pelestarian Candi Borobudur, akar menjadi bagian penting yang dipertimbangkan dalam penataan vegetasi di Zona 1 Candi Borobudur. Hal ini karena Candi Borobudur berada di atas bukit, sehingga kestabilan struktur candi sangat dipengaruhi oleh lereng bukit. Oleh karena itu, pada sisi lereng bukit ditanami tumbuhan yang memiliki perakaran tunggang yang kuat sebagai contoh pohon asam dan kenari.

AKALIPTA

adalah jenis tanaman hias yang ditaman di halaman Candi Borobudur pada sisi Barat Laut. Tanaman hias ini termasuk dalam kelompok semak berkayu. Tanaman ini memiliki pertumbuhan yang cepat, untuk tumbuh baik memerlukan kelembaban yang tinggi. Warna daun merah tembaga cerah, panjang daun lebih kurang 5 inci, berbentuk semak dengan tinggi 4 kaki.

Shopping Basket