MANGGA

atau Mangifera indica merupakan salah satu termasuk tumbuhan tingkat tinggi yang struktur batangnya (habitus) termasuk kelompok arboreus, yaitu tumbuhan berkayu yang mempunyai tinggi batang lebih dari 5 m. Mangga bisa mencapai tinggi 10–40 m.

Nama buah ini berasal dari Malayalam maanga. Kata ini dipadankan dalam bahasa Indonesia menjadi mangga; dan pada pihak lain, kata ini dibawa ke Eropa oleh orang-orang Portugis dan diserap menjadi manga (bahasa Portugis), mango (bahasa Inggris) dan lain-lain. Nama ilmiahnya sendiri kira-kira mengandung arti: “(pohon) yang berbuah mangga, berasal dari India”. Berasal dari sekitar perbatasan India dengan Burma, mangga telah menyebar ke Asia Tenggara sekurangnya semenjak 1500 tahun yang silam.


Buah ini dikenal pula dalam berbagai bahasa daerah, seperti pelem atau poh (jawa). Di Candi Borobudur motif hias Pohon Mangga banyak terpahatkan di relief-relief candi, motif pohon ini pada umumnya dipahatkan secara utuh mencakup batang, dahan atau ranting, daun, dan buah yang dipahatkan secara detail.

Buah mangga biasa di dipahatkan dengan berbentuk lonjong memanjang, ujung buah cenderung meruncing dan membengkok. Daun mangga berbentuk daun tunggal tanpa daun penumpu dengan letak tersebar.


Pohon Mangga pada relief Candi Borobudur

LUMUT

atau dalam bahasa Inggris disebut moss merupakan sekumpulan tumbuhan kecil yang termasuk dalam Bryophyta. Tumbuhan ini sudah menunjukkan diferensiasi tegas antara organ penyerap hara dan organ fotosintetik namun belum memiliki akar dan daun sejati.

Lumut umum tumbuh pada permukaan batu adalah lumut hati dan lumut daun. Pada musim penghujan lumut akan tumbuh pada permukaan batu Candi Borobudur.


Lumut yang tumbuh di permukaan batu candi (sumber: mblusuk.com)

LICHEN

merupakan organisme simbiosis antara algae dan jamur, oleh karena itu sering disebut sebagai jamur kerak. Tubuhnya belum terdeferensiasi menjadi akar batang dan daun, sehingga dikelompokan ke dalam tumbuhan berthalus.

Sebagai organisme hasil simbiosis antara algae dan jamur, maka lichen tumbuh pada material organik (seperti kayu, batang pohon) dan anorganik (seperti batu, bata dsb). Sebelum pemugaran kedua tahun 1973-1983, permukaan Candi Borobudur banyak ditumbuhi lichen, namun saat ini jarang ditemukan organisme tersebut karena telah dilakukan perawatan secara rutin.


Lichen (berwarna putih) yang tumbuh di permukaan batu candi

KOSAMBI

atau Schleichera sp., adalah tumbuhan angiospermae yang memiliki ciri-ciri batang: tegak, bulat, berkayu, permukaan kasar, percabangan simpodial, coklat kotor.

Daun tunggal, lanset, berseling, panjang 11-25 cm, lebar 2-6 cm, tepi rata, ujung lancip, pertulangan menyirip tangkai bulat, panjang ± 1 cm, hijau. Bunga: majemuk, bentuk tandan, di ketiak daun atau ujung batang, kelopak 4-6 lembar, bersatu di pangkal, berduri, hijau, mahkota putih. Buah: Bulat, coklat kehitaman. Biji: Bulat, coklat. Akar: tunggang, coklat muda. Batang kesambi bisa tumbuh setinggi 15-40 meter, dengan diameter batang 60-175 cm.

Pohon Kosambi juga ditanam di zona 1 Candi Borobudur karena merupakan tanaman langka dan memiliki dahan yang rimbun serta tidak meranggas ketika musim kemarau. Tanaman ini dapat dijumpai pada sisi barat daya dekat lapangan Gunadharma.


Pohon Kosambi di Zona 1 Candi Borobudur

KETAPANG

adalah salah satu jenis pohon yang terpahat pada relief Candi Borobudur, dan ditanam pada halaman zona 1. Pohon Ketapang memiliki nama ilmiah Terminalia catappa merupakan pohon peneduh.

Dikategorikan sebagai pohon peneduh karena tajuk yang rindang dengan cabang mendatar dan tajuknya bertingkat-tingkat mirip struktur pagoda. Daun Ketapang lebar berbentuk bulat telur dengan pangkal daun runcing dan ujung daun lebih tumpul. Bunga Ketapang berukuran kecil dan terkumpul dalam bulir dekat ujung ranting berwarna kuning kehijauan.

Buahnya batu berbentuk bulat telur agak gepeng dan persegi. Saat muda buah Ketapang berwarna hijau kekuningan dan berubah menjadi ungu kemerahan pada saat matang.


Pohon dan buah ketapang

KELAPA

Merupakan anggota tunggal dalam marga Cocos dari suku aren-arenan atau Arecaceae. Tumbuhan ini dimanfaatkan hampir semua bagiannya oleh manusia sehingga dianggap sebagai tumbuhan serbaguna, terutama bagi masyarakat pesisir. Tumbuhan ini diperkirakan berasal dari pesisir Samudera Hindia di sisi Asia, namun kini telah menyebar luas di seluruh pantai tropika dunia. Pohon Kelapa tumbuh dengan batang tunggal namun terkadang ada yang bercabang.


Akar pohon kelapa serabut, tebal dan berkayu, berkerumun membentuk bonggol, adaptif pada lahan berpasir pantai. Batang beruas-ruas namun bila sudah tua tidak terlalu tampak, khas tipe monokotil dengan pembuluh menyebar (tidak konsentrik), berkayu. Kayunya kurang baik digunakan untuk bangunan. Daun merupakan daun tunggal dengan pertulangan menyirip, daun bertoreh sangat dalam sehingga nampak seperti daun majemuk.

Bunga tersusun majemuk pada rangkaian yang dilindungi oleh bractea; terdapat bunga jantan dan betina, berumah satu, bunga betina terletak di pangkal karangan, sedangkan bunga jantan di bagian yang jauh dari pangkal. Buah besar, diameter 10 cm sampai 20 cm atau bahkan lebih, berwarna kuning, hijau, atau coklat; buah tersusun dari mesokarp berupa serat yang berlignin, disebut sabut, melindungi bagian endokarp yang keras (disebut batok) dan kedap air; endokarp melindungi biji yang hanya dilindungi oleh membran yang melekat pada sisi dalam endokarp. Endospermium berupa cairan yang mengandung banyak enzim, dan fase padatannya mengendap pada dinding endokarp seiring dengan semakin tuanya buah; embrio kecil dan baru membesar ketika buah siap untuk berkecambah (disebut kentos).


Kelapa secara alami tumbuh di pantai dan pohonnya mencapai ketinggian 30 m. Awalnya berasal dari pesisir Samudera Hindia, namun kini telah tersebar di seluruh daerah tropika. Tumbuhan ini dapat tumbuh hingga ketinggian 1.000 m dari permukaan laut, namun seiring dengan meningkatnya ketinggian, kelapa akan mengalami pelambatan pertumbuhan.

Motif hias Pohon Kelapa terpahat di relief Candi Borobudur yang pada umumnya dipahatkan secara utuh mencakup batang, daun, dan buah yang dipahatkan secara detail. Pohon dipahatkan beruas-ruas, dengan daun tunggal pertulangan menyirip dan tersusun majemuk. Buah digambarkan besar bulat bergerombol dan dilengkapi dengan bunga yang tersusun majemuk.


Pohon kelapa pada relief Candi Borobudur

KAPUK RANDU

atau Ceiba petandra merupakan tumbuhan yang menghasilkan serat (kapuk dalam bahasa Jawa) yang digunakan untuk membuat kasur, bantal dan guling. Tumbuhan kapuk dapat mecapai tinggi 30 meter, dengan ciri-ciri batangnya besar dengan tonjolan-tonjolan kecil pada pangkalnya.

Cabang-cabangnya meluas ke arah horizontal. Daunnya terdiri dari 15 anak daun masing-masing sepanjang 15 cm. Bunga putih kecil dan bergerombol sepanjang 20 cm. Buah berbentuk kapsul dapat mencapai 10-30 cm. Jika buah masak berwarna coklat dan meruncing pada ujungnya, dalamnya berisi biji kecil-kecil berwarna hitam serta berisi serat kapas.

Tanaman kapuk randu juga merupakan tumbuhan yang terpahatkan pada relief Candi Borobudur (Siswanto, 1999).

KAMBOJA

adalah pohon hias yang terpahatkan pada relief dan ditanam pada sisi barat daya zona 1 Candi Borobudur, jenis kamboja yang ditanam adalah kamboja merah dan kamboja putih. Kamboja biasanya tumbuh di pekuburan sebagai peneduh dan penanda tempat.

Kamboja memiliki nama ilmiah Plumeria sp. dengan ciri-ciri bunga kamboja memiliki mahkota yang bertumpukan memiliki 2 bentuk daun, yakni: pertama daun berujung lancip dan kedua berujung membulat.

KALPATARU

adalah pohon yang dapat memberi segala apa yang diinginkan dan diminta oleh manusia (pohon kehidupan). Pada relief Candi Borobudur, pohon kalpataru ini digambarkan sebagai relief dekoratif maupun juga dalam relief cerita.

Pohon kalpataru atau kalpawrksa adalah gambaran pohon kahyangan, yang penuh dengan bunga-bunga baik yang mekar maupun yang masih kuncup, dan pada beberapa bunga yang mekar itu di tengah-tengah mahkota yang terbuka menjuntai mutiara dan manik-manik. Bunga-bunga dan dedaunan tersusun dalam pola setangkup, membentuk gumpalan padat yang sedikit cembung, seakan menyembul dari sebuah vas bunga yang membentuk bagian batang pohon.


Pohon Kalpataru pada relief Candi Borobudur

Shopping Basket