TREMBESI

Merupakan tanaman yang ditanam di area zona 1 Candi Borobudur sebagai pohon peneduh, pelindung, dan tanaman penyerap polutan karena trembesi mampu menyerap karbon dioksida dari udara dalam jumlah besar. Tumbuhan trembesi ini juga merupakan tanaman langka. Selain itu tumbuhan trembesi juga tergambarkan pada relief Candi Borobudur.Trembesi atau munggur memiliki nama ilmiah Samanea samman, merupakan tumbuhan penghasil kayu. Tumbuhan ini memiliki ciri-ciri batang tinggi, besar dan kuat, ketinggian pohon trembesi dapat mencapai 10 hingga 20 meter. Permukaan batang berwarna coklat hingga hitam, beralur, dan kasar. Daun trembesi merupakan daun majemuk, daun berbentuk bulat memanjang dengan tepi daun rata. Permukaan daun licin, berwarna hijau dan memiliki tulang daun yang menyirip. Bunga berwarna merah kekuningan. Buah berwarna hitam dan berbentuk polong dengan panjang antara 30 hingga 40 cm. Setiap polong terdiri dari beberapa biji yang berbentuk lonjong, keras, dan berwarna coklat kehitaman.

TERATAI

Adalah nama genus untuk tanaman air dari suku nymphaeaceae. Bunga dan daun terdapat di permukaan air, keluar dari tangkai berongga yang berasal dari rizoma yang berada di dalam lumpur pada dasar kolam, sungai atau rawa. Tumbuhan teratai memiliki batang berongga yang fungsinya sebagai tempat menyimpan oksigen untuk bernafas dan memudahkan teratai mengapung di air. Daun berbentuk bundar atau bentuk oval yang lebar dan tipis yang terpotong pada jari-jari menuju ke tangkai. Daun teratai yang bundar, lebar, dan tipis. Teratai terdiri dari sekitar 50 spesies yang tersebar dari wilayah tropis hingga daerah subtropis seluruh dunia. Bunga teratai menjadi simbol penting dalam agama Buddha. Kelopak bunga teratai disimbolkan sebagai tempat duduk atau singgasana Sang Buddha saat bersemedi, yang disebut padma. Padma dapat dilihat pada bagian bawah arca Buddha yang ada pada relief maupun pada dudukan arca Buddha Candi Borobudur.

TANAMAN

Adalah flora atau tumbuhan yang digunakan sebagai sumber bahan pangan, minuman, obat-obatan, bangunan atau sekedar hiasan. Pada Candi Borobudur terdapat relief yang menggambarkan puluhan jenis tanaman yang yang mempunyai manfaat yang berhubungan langsung dengan kebutuhan sehari-hari antara lain padi, jewawut, kelapa, sukun, nangka, pisang, durian, dan mangga. Relief tanaman obat antara lain kamboja, manggis, kembang sepatu dan kecubung.

SPORA

Spora adalah alat perkembangbiakan tumbuhan tingkat rendah. Spora terdiri dari satu atau beberapa sel (bisa haploid ataupun diploid) yang terbungkus oleh lapisan pelindung. Sel ini dorman dan hanya tumbuh pada lingkungan yang memenuhi persyaratan tertentu, yang khas bagi setiap spesies. Spora dibentuk dan disimpan di dalam kotak spora yang disebut sporangium. Organisme yang menghasilkan spora untuk perkembangbiakannya antara lain bakteri, algae, jamur, lumut dan paku-pakuan. Spora algae lumut, dan paku pakuan dapat tumbuh pada permukaan di Candi Borobudur karena kondisi batu yang lembab pada musim penghujan serta karena adanya unsur tersedia pada batu-batu candi.

POHON BODHI

Adalah nama lain dari istilah latin ficusreligiosa L. Merupakan suku ara-araan atau moraceae, dikenal dalam agama Buddha sebagai tempat sang Buddha Gautamabersemedi dan memperoleh pencerahan. Pohon ini dipandang suci oleh penganut agama Hindu dan Buddha. Di Candi Borobudur terdapat pohon bodhi yang dipercaya keturunan langsung dari pohon induk yang terdapat di Bodh Gaya India, tempat Sang Buddha memperoleh pencerahan.

PINUS

Pinus adalah sebutan bagi sekelompok tumbuhan yang semuanya tergabung dalam marga pinus. Adapun ciri-ciri pohon pinus sebagai berikut perakaran tumbuhan pinus adalah akar tunggang yang mencengkeram kuat tanah, dan bercabang. Sehingga tumbuhan ini dijadikan sebagai tumbuhan penahan erosi yang ditanam pada tebing-tebing yang curam. Batang pohon pinus besar pada bagian bawah dan terus mengecil semakin ke atas. Sehingga dari kejauhan mebentuk kerucut atau limas yang memanjang. Bentuk batang membulat, tanjuk pohon muda menyerupai piramid, setelah tua menjadi lebih melebar dan rata. Arah tumbuh batang tegak lurus ke atas. Percabangan batang monopodial, yakni batang pokok lebih jelas dan lebih cepat pertumbuhanya dibandingkan cabang-cabangnya. Daun tumbuhan pinus merupakan daun majemuk, dari bagian pangkal sampai ujung sama lebarnya. Panjang daun 10-20 cm, bagian pangkal daun diselubungi sisik berbentuk selaput tipis, bagian ujung daun meruncing, pangkal daun roping serta bagian tepi rata. Ranting berukuran pendek seperti jarum. Bunga pohon pinus berupa bunga jantan dan bunga betina, bunga jantan berbentuk silindris panjang 2-4 cm sedangkan bunga betina berbentuk kerucut ujungnya runcing, bersisik, berwarna coklat, dan pada setiap bakal biji terdapat sayap. Bunga muda berwarna kuning setelah tua berwarna coklat. Buah pinus berbentuk kerucut, silindris dengan panjang 5-10 cm, serta lebar 2- 4 cm. Biji berbentuk pipih, bulat oval dengan sayap yang dihasilkan setiap dasar bunga atau sisik buah. Setiap sisik menghasilkan dua biji, warna biji pinus umumnya putih kekuningan. Pohon pinus juga ditanam di lereng bukit di bawah Candi Borobudur yang akarnya berfungsi untuk mencegah erosi pada lereng tebing.

PERDU

Adalah jenis tanaman yang menyerupai pohon tetapi lebih kecil dan batangnya cukup berkayu tetapi tubuhnya kurang tegak. Tanaman perdu biasanya bercabang banyak dengan percabangan yang selalu dekat dengan tanah. Jenis tanaman perdu sebagai tanaman hias yang di taman di zona I Candi Borobudur antara lain: akalipa, melati, bugenvil, kenanga, puring, kembang sepatu, terang bulan, soka, kemuning, srigading, bunga metega, glagah, teh-tehan, ceplok piring dan lain-lain.

NYAMPLUNG

adalah merupakan pohon langka yang dapat berfungsi sebagai peneduh dan pemecah angin (wind breaker). Oleh karena itu, nyamplung ditanam pada sisi barat laut, timur laut dan tenggara zona 1. Selain itu, pohon nyamplung ini juga terpahatkan pada relief Candi Borobudur.

Nyamplung memiliki nama ilmiah Calophyllum iniophyllum dengan ciri-ciri tinggi pohon dapat mencapai 20-25 meter dengan batang tidak lurus, tetapi bercabang rendah, mendekati permukaan tanah. Berakar tunggang yang berbentuk bulat berwarna coklat. Berdaun tunggal, dengan bentuk bulat memajang atau oval, ujung daun tumpul dengan pangkal membulat, letak daun silang dan berhadap-hadapan.

Bunga nyamplung merupakan bunga tunggal yang berbentuk tandan, terletak diketiak daun yang teratas. Buah nyamplung berbentuk bulat, tebal dan keras, berwarna hijau berubah menjadi coklat ketika kering.


Pohon dan buah Nyamplung

NANGKA

atau Artocarpus heterophylla adalah tumbuhan yang umumnya berukuran sedang, tingginya dapat mencapai sekitar 20 – 30 meter. Batang bulat silindris dengan diameter sekitar 1 meter. Tajuknya padat dan lebat, melebar dan membulat apabila di tempat terbuka. Seluruh bagian tumbuhan mengeluarkan getah putih pekat apabila dilukai.

Buah Nangka biasanya bisa dimakan secara langsung atau diolah menjadi aneka jenis makanan daerah: dodol nangka, kolak nangka, selai nangka, nangka-goreng-tepung, keripik nangka, dan lain-lain. Nangka juga digunakan sebagai pengharum es krim dan minuman, dijadikan madu-nangka, konsentrat atau tepung. Biji nangka, dikenal dengan nama “beton”, dapat direbus dan dimakan sebagai sumber karbohidrat tambahan.


Buah nangka muda sangat digemari sebagai bahan sayuran. Di Sumatera, terutama di Minangkabau, dikenal masakan gulai cubadak (gulai nangka). Di Jawa Barat buah nangka muda antara lain dimasak sebagai salah satu bahan sayur asam. Di Jawa Tengah dikenal berbagai macam masakan dengan bahan dasar buah nangka muda (disebut gori), seperti sayur lodeh, sayur megana, oseng-oseng gori, dan jangan gori. Di Yogyakarta nangka muda terutama dimasak sebagai gudeg. Sementara di seputaran Jakarta dan Jawa Barat, bongkol bunga jantan (disebut babal atau tongtolang) kerap dijadikan bahan rujak.

Daun-daun nangka merupakan pakan ternak yang disukai kambing, domba maupun sapi. Kulit batangnya yang berserat, dapat digunakan sebagai bahan tali dan pada masa lalu juga dijadikan bahan pakaian. Getahnya digunakan untuk perangkap burung, untuk menambal perahu, dan lain-lain. Kayunya berwarna kuning di bagian teras, berkualitas baik dan mudah dikerjakan. Kayu ini cukup kuat, awet, dan tahan terhadap serangan rayap atau jamur, serta memiliki pola yang menarik, gampang mengkilap apabila diserut halus dan digosok dengan minyak. Karena itu kayu nangka kerap dijadikan perkakas rumah tangga, mebel, konstruksi bangunan, konstruksi kapal sampai ke alat musik. Dari kayunya juga dihasilkan bahan pewarna kuning untuk mewarnai jubah para pendeta Buddha.


Motif hias Pohon Nangka terpahat di relief Candi Borobudur yang pada umumnya dipahatkan secara utuh mencakup batang, dahan atau ranting, daun, dan buah yang dipahatkan secara detail. Motif pohon nangka dipahatkan dengan bentuk pohon yang rimbun dengan daun tunggal, tersebar, dan bertangkai. helai daun berbentuk bulat telur terbalik memanjang dengan pangkal menyempit dan ujung runcing. Buah berbentuk gelendong memanjang merata, yang muncul di tiap dahan pohon nangka.


Pohon Nangka pada relief Candi Borobudur

MANGGIS

Merupakan sejenis pohon hijau abadi dari daerah tropika yang diyakini berasal dari Kepulauan Nusantara. Tumbuh hingga mencapai 7 sampai 25 meter. Buahnya juga disebut manggis, berwarna merah keunguan ketika matang, meskipun ada pula varian yang kulitnya berwarna merah.

Buah manggis dalam perdagangan dikenal sebagai “ratu buah”, sebagai pasangan durian, si “raja buah”. Buah ini mengandung mempunyai aktivitas antiinflamasi dan antioksidan. Sehingga di luar negeri buah manggis dikenal sebagai buah yang memiliki kadar antioksidan tertinggi di dunia.


Manggis merupakan sebuah pohon tropis yang tumbuh dalam suhu hangat dan stabil, paparan suhu di bawah 0 °C (32 °F) untuk jangka waktu yang lama, umumnya akan membunuh tanaman dewasa. Hortikulturis yang berpengalaman telah menumbuhkan spesies ini di luar ruangan dan membawanya untuk dikembangkan di daerah ekstrim di bagian Selatan Florida.

Manggis bersifat apomiksis obligat, biji tidak berasal dari fertilisasi dan diduga mempunyai keanekaragaman genetik sempit, sehingga diperkirakan manggis di alam hanya satu klon dan sifatnya sama dengan induknya. Kenyataan di lapangan menunjukkan adanya keanekaragaman tanaman manggis yang mungkin disebabkan faktor lingkungan mau pun faktor genetik akibat mutasi alami sejalan dengan sejarah tanaman manggis yang telah berumur ribuan tahun.

Buah manggis muda, dimana tidak memerlukan pemupukan untuk tumbuh, pertama kali akan berwarna hijau pucat atau hampir putih di bawah kanopi. Saat buah membesar selama 2 hingga 3 bulan ke depan, warna kulitnya akan menjadi hijau gelap. Pada periode ini, pertumbuhan ukuran buah dapat meningkat hingga kulitnya berukuran 6 – 8 cm (2,4 – 3,1 inchi) dengan diameter luar, akan tetap keras hingga pematangan akhir tiba.

Sifat kimia dari permukaan bawah kulit manggis terdiri dari berbagai polifenol, termasuk xanthones dan tanin yang menjamin astringent dapat menghambat perhatian serangga, jamur, virus tanaman, bakteri dan pemangsa hewan, pada saat buah belum matang. Perubahan warna dan pelunakan kulit menjadi proses alami yang menunjukkan pematangan buah dapat dimakan dan benih telah selesai berkembang.


Motif hias Pohon Manggis terpahat di relief Candi Borobudur yang pada umumnya dipahatkan secara utuh mencakup batang, dahan atau ranting, daun, dan buah yang dipahatkan secara detail. Pohon dipahatkan memiliki banyak cabang dengan daun yang rimbun yang menyirip dan lancip diujungnya. Buah dipahatkan lonjong dengan tangkai buah dikepala buah yang keluar dari dahan pohon.


Pohon Manggis pada relief Candi Borobudur

Shopping Basket