ARCA SINGA

Menurut kepercayaan Buddha, Singa merupakan kendaraan sang Buddha ke nirwana. Singa merupakan simbol dari sang Buddha, yaitu Sidharta Gautama. Dia dikenal sebagai “Singa keluarga Sakya” karena singa adalah raja para binatang yang melambangkan kekuatan, keberanian, kemenangan serta kemampuan untuk melindungi para penganut agama Buddha. Candi Borobudur dilengkapi 32 arca singa sebagai penjaga pintu masuk di halaman maupun di pintu naik tangga pada keempat penjuru mata angin. Di India arca singa dianggap sebagai tokoh penjaga pintu bangunan stupa, maka bersumber dariSilpa Prakasa dan candi-candi di India, arca singa pada Candi Borobudur pun berfungsi sebagai penjaga situs dan stupa.


Bentuk pahatan berupa singa juga dijumpai sebagai elemen arsitektural pada kaki Candi Ngawen. Pada kaki Candi Ngawen, arca singa dipahatkan pada tiap sudut kaki candi dengan posisi berdiri setengah menerkam. Singa yang juga merupakan simbol penolak bala terhadap niat-niat buruk pada saat seseorang memasuki halaman utama maupun pada saat melakukan pemujaan di dalam candi.

ARCA BUDDHA

merupakan media pemujaan dan meditasi penganut Buddha. Berdasar filosofis Mahayana maka Arca Buddha yang dipuja terdiri dari banyak Buddha sebagai berikut. Ajaran tentang banyak Buddha ini dijabarakan dari ajaran tentang lima skandha yang merupakan kelima unsur yang enyusun kehidupan. Kelima skandhatersebut adalah rupa (tubuh), wedana (perasaan), samjna (pengamatan), samskara (kehendak). Ajaran yang berupa lima unsur tersebut juga dijumpai dalam diri Sang Buddha. Tiap unsur tersebut mewakili satu tokoh Buddha yang disebut sebagai tathagata. Kelima tathagata itu adalah Wairocana (yang bersinar atau yang menerangi), Aksobhya (yang tenang atau tidak terganggu), Ratnasambhawa (yang dilahirkan dari permata), Amitabha (yang terang dan kekal), Amoghasiddha (keuntungan yang tak binasa). Pada perkembangannya para tathagata tersebut dihubungkan dengan penjuru alam. Kelima tathagata tersebut dihubungkan dengan penjuru alam dan membentuk tubuh alam semesta. Sehingga Aksobhya dipandang berkuasa di sebelah Timur, Amitabha di sebelah Barat, Amoghasiddha di Utara, Ratnasambhawa di Selatan dan Wairocana di tengah-tengah (zenith).


Pengaruh aliran Tantra pada Mahayana memunculkan ajaran tentang Adhi Buddha, yaitu Buddha yang pertama dan dipandang sebagai awal tanpa asal yang berada karena dirinya sendiri, sehingga tidak tampak karena berada dalam nirwana. Hakikat Adhi Buddha adalah terang dan murni. Adhi Buddha timbul dari sunyata dan kekosongan. Dari permenungan (dhyana) Adhi Buddha mempunyai hakikat yang terang dan murni kemudian mengalir dari dirinya lima Dhyani Buddha yaitu Wairocana, Aksobhya, Ratnasambhawa, Amitabha, dan Amoghasiddha. Para Dhyani Buddha tersebut mengusai masing-masing daerahnya yang diagmbarkan sebagai alam semesta. Pada masing-masing daerah tersebut mereka mengajarkan Dharmanya pada para makhluk dan menolong manusia mendapatkan pencerahan.


Dalam sikap permenungannya para Dhyani Buddha melahirkan Dhyani Bodhisatwa sebagai berikut. Wairocana melahirkan Samantabhadra, Aksobhya melahirkan Wajrapani, Amighasiddha melahirkan Wiswapani, Ratnasambhawa melahirkan Ratnapani, dan Amithaba melahirkan Awalokiteswara atau Padmapani. Dhyani Bodhisatwa adalah pencipta alam bendawi, adapun alam bendawi saat ini adalah hasil ciptaan Awalokiteswara yang merupakan utusan Dhyani Buddha Amithaba. Dalam menyampaikan ajaran Dharma kepada manusia maka Dhyani Bodhisatwa memberikan pancaran energi kepada Manusi Buddha sebagai guru yang diutus oleh Dhyani Bodhisatwa yaitu Krakuccanda, Kanakamuni, Kasyapa Sakyamuni, dan Maitreya. Kesatuan tentang ajaran Buddha dengan banyak dewa tersebut didapatkan dalam ajaran Trikaya atau tiga tubuh Buddha yaitu DharmakayaSambhogakaya, dan Nirmanakaya.

Pada Candi Borobudur, Arca Dhyani Buddha ditempatkan pada pagar langkan I – IV sesuai dengan Dhyani Buddha penguasa penjuru arah. Adapun pada pagar langkan V ditempatkan arca Dhyani Buddha Wairocana mengahadap ke seluruh penjuru arah. Sedangkan Dhyani Buddha Vajrasatwa mengisi ruang pada 72 stupa teras pada lantai VIII-X.


Tabel Arca Buddha Candi Borobudur

Sisi Jumlah arca Buddha seharusnya Jumlah
Langkan Tingkat Teras
I II III IV V I II III
Utara 26 26 22 18 16 32 24 16
Timur 26 26 22 18 16
Selatan 26 26 22 18 16
Barat 26 26 22 18 16
104 104 88 72 64 32 24 16 504

Dari Segi ikonometri, Dhyani Buddha yang digambarkan sebagai dewa tertinggi menggunakan ukuran Uttamadasatala seperti yang disebutkan dalam kitab Pratimanalaksanam. Dalam kitab tersebut arca Buddha mempunyai ukuran 120 angula. Sumber yang lain yaitu kitab Kriyasamuccaya menyebutkan bahwa ukuran arca Buddha 124 angula.

API ABADI MRAPEN

adalah sebuah kompleks yang terletak di Desa Manggarmas, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Kawasan ini terletak di tepi jalan raya Purwodadi – Semarang, berjarak 26 km dari Kota Purwodadi. Kompleks api abadi Mrapen merupakan fenomena geologi alam berupa keluarnya gas alam dari dalam tanah yang tersulut api sehingga menciptakan api yang tidak pernah padam walaupun turun hujan sekalipun.

Api abadi ini oleh umat Buddha digunakan dalam pelaksanaan kegiatan hari Tri Suci Waisak di Candi Borobudur. Umat Buddha menganggap api Mrapen sebagai api dharma atau api yang melambangkan pancaran cahaya dalam kegelapan.


Prosesi pengambilan api abadi Mrapen sebelum perayaan Waisak (sumber:http://grobogan.go.id)

AMOGHAPASA

Merupakan salah satu dari enam perwujudan Awalokiteswara yang melambangkan belas kasih dan panduan menuju kebaikan. Di samping itu, Amoghapasa juga dianggap sebagai emanasi Bodhisatwa Maitreya atau Ksitigarbha, yang juga merupakan emanasi Buddha Wairocana. Prasasti Amoghapasa merupakan perwujudan Lokeswara sebagaimana disebut pada prasasti Padang Roco di Kompleks Candi Padang Roco, Kabupaten Dharmaseaya.

Arca ini merupakan hadiah dari Raja Kertanagara dari Singhasari kepada Tribhuwanaraja yang menjadi Raja di Kerajaan Melayu di Dharmasraya pada tahun 1208 Saka atau 1286 Masehi. Pada bagian lapik (alas) arca ini terdapat tulisan yang disebut prasasti Padang Roco yang menjelaskan penghadiahan arca ini. Berita pengiriman arca Amoghapasa ini tertulis pada alas arca bertanggal 22 Agustus 1286. Sedangkan pada bagian belakang arca terdapat tulisan yang disebut dengan prasasti Amoghapasa berangka tahun 1346 Masehi. Arca Amoghapasa ini berukuran tinggi 163 sentimeter, lebar 97-139 sentimeter, dan terbuat dari batu andesit.

Sebagaimana digambarkan dalam prasasti Padang Roco, arca ini diiringi empat belas pengikut (murid) Amoghapasa. Empat orang berdiri di kedua sisi dengan sikap tubuh menengadah sambil menghormat dan memuliakan Amoghapasa, sementara sepuluh lainnya duduk di atas padma melayang di latar belakang. Pada bagian bawahnya terukir tujuh ratna berupa lambang-lambang buddhisme yaitu stupa, cakra, tara, boddhisatwa, kijang, dan gajah. Sayang sekali wajah dan lengan Amoghapasa ini telah rusak, demikian pula pahatan beberapa pengikutnya telah rusak.

Saat ini arca amoghapas tersebut disimpan di Museum Nasional dengan no inventaris D.198-6468 (bagian alas) dan D.198-6469 (bagian arca).


Arca Amoghapasa dari Padang Roco

AMITHABA

adalah salah satu arca Dhyani Buddha yang dijumpa pada struktur pagar langkan Candi Borobudur. Arca Dhyani Buddha Amitabha berada pada pagar langkan sisi Barat lantai III – VI divisualisasikan dalam bentuk laki-laki yang sedang duduk bersila di atas asana berupa padma (padmasana). Pada bagian kepala memiliki rambut keriting mengikal ke kanan (pradaksinawartakesa) dengan tonjolan gelung rambut (usnisa) pada bagian ubun-ubun. Bentuk wajahnya persegi dengan eskpresi wajahnya tenang (saumya) dengan dahi yang memiliki pahatan berupa tonjolan kecil (urna) pada bagian tengah-tengahnya. Alis matanya tipis dengan pandangan yang teduh ke arah bawah. Bagian leher arca bergaris 3 dengan telinga panjang pada bagian bawahnya. Pipi arca diapahatkan gemuk dengan hidung yang mancung dan bibir yang tipis.

Pada dasarnya arca Dhyani Buddha Amitabha mengenakan jubah tipis sepertihalnya sutera tipis yang menutup seluruh bagian tubuhnya kecuali bagian kepala, leher, dada kanan, punggung kanan, dan tangan kanan. Sikap tangan (mudra) Dhyani Buddha Amitabha adalah dhyanamudra yaitu Telapak tangan kanannya menengadah dan menutup telapak tangan kiri. Kedua tangan tersebut diletakkan pada bagian pergelangan kaki (gulpha) dan tumit (parsni) dalam posisi bersila. Sikap tangan dhyanamudra tersebut mempunyai makna sikap tangan bermeditasi yakni ketika Sidharta telah berhasil memperoleh pengetahuan sempurna dan pencerahan tentang dharma Buddha. Dalam filososi Buddha Mahayana, Dhyani Buddha Amithaba mempunyai emanasi yaitu Awalokiteswara atau Lokeswara yang dipuja sebagai Thatagata masa kini.


Arca Dhyani Buddha Amithaba Candi Borobudur

AKSOBYA

adalah salah satu arca Dhyani Buddha yang dijumpai pada struktur pagar langkan Candi Borobudur. Arca Dhyani Buddha Aksobya berada pada pagar langkan sisi Timur lantai III – VI dan divisualisasikan dalam bentuk laki-laki yang sedang duduk bersila di atas asana berupa padma (padmasana). Pada bagian kepala memiliki rambut keriting mengikal ke kanan (pradaksinawartakesa) dengan tonjolan gelung rambut (usnisa) pada bagian ubun-ubun. Bentuk wajahnya persegi dengan eskpresi wajahnya tenang (saumya) dengan dahi yang memiliki pahatan berupa tonjolan kecil (urna) pada bagian tengah-tengahnya. Alis matanya tipis dengan pandangan yang teduh ke arah bawah. Bagian leher arca bergaris 3 dengan telinga panjang pada bagian bawahnya. Pipi arca diapahatkan gemuk dengan hidung yang mancung dan bibir yang tipis.


Pada dasarnya arca Dhyani Buddha Aksobhya mengenakan jubah tipis sepertihalnya sutera tipis yang menutup seluruh bagian tubuhnya kecuali bagian kepala, leher, dan dada kanan. Sikap tangan (mudra) Dhyani Buddha Aksobhya adalah bhumisparsamudra yaitu Telapak tangan kanannya menelungkup ke bawah dan menapak pada lutut kanan. Sedangkan telapak tangan kirinya menengadah ke atas dengan punggung tangan ditempelkan pada bagian pergelangan kaki (gulpha) dan tumit (parsni) dalam posisi kaki bersila. Sikap tangan bhumisparsamudra tersebut mempunyai makna menjadikan Bumi sebagai saksi di saat Sidharta diganggu oleh anak-anak setan Mara pada saat bermeditasi di bawah pohon Bodhi di Kota Bodhgaya.


Arca Dhyani Buddha Aksobya Candi Borobudur

AGAMA BUDDHA

Merupakan ajaran yang disebarkan oleh Sidharta Gautama pada abad VI SM. Sidharta Gautama dilahirkan di sebuah wilayah bernama Lumbini yang saat ini menempati lokasi administratif negara Nepal. Sidharta Gautama mencapai pencerahan setelah bermeditasi di bawah pohon Bodhi pada usia 35 tahun. Setelah itu, selama 45 tahun Sidharta Gautama menyebarkan ajarannya di sekitar lembah Sungai Gangga di India. Sri Bhagawa (Buddha) menyampaikan khotbahnya untuk pertama kali di taman rusa Benares. Penyebaran ajaran Buddha mengamali perkembangan pesat setelah Maharaja Asoka dari Maurya (273-232 SM) mengalahkan kerajaan Kalingga di India. Setelah penaklukan tersebut, Asoka gencar menyebarkan ajaran Buddha hingga ke Laut Tengah. Ajaran Buddha masuk ke Asia untuk pertama kali di wilayah sekitar Myanmar pada tahun 200 SM yang di bawa oleh Maharaja Asoka.

Candi Borobudur merupakan salah satu Candi yang menggunakan konsep filosofis Mahayana. Buddha Mahayana merupakan salah satu aliran utama agama Buddha. Istilah Mahayana dan Hinayana muncul pertama kali pada sekitar abad I SM hingga I M, kedua istilah Mahayana dan Hinayana muncul di Sutra Saddharma Pundarika atau Sutra Teratai Ajaran Kebajikan. Mahayanan dalam bahasa Sanskerta berarti “kendaraan besar”. Filosofi Mahayana disebarkan dari India ke Asia Tenggara, Asia Tengah, Tiongkok, hingga Jepang pada sekitar abad VI M.


Filosofis Buddha Mahayana terdiri dari dua aliran yang terkemuka yaitu Madhyamika yang didiran oleh Nagarjuna sekitar abad II M dan Yogacarya (Vijnanawada), yang didirikan oleh Asangga dan Vasubandhu pada sekitar abad IV M. Madhyamika tumbuh secara logis dari Agama Buddha awal dengan tiga doktrinya, jalan tengah, tiadanya ego permanen, dan elemen-elemen (dharma-dharma) yang bersifat sementara serta mengalami kematian, tetapi Madhyamika mengembangkan ajaran itu sampai pada pendapat bukan hanya individu, melainkan juga elemen-elemen dianggap tidak nyata. Nagarjuna menjelaskan realitas tertinggi sebagai sunyata atau kosong, alirannya disebut Madhyamikia karena mengerjakan jalan tengah dimana eksistensi dan non eksistensi hanya memiliki kebenaran relatif, sedangkan kebijaksanaan sejati adalah pengetahuan tentang makna kekosongan yang nyata. Mengenai kekosongan yang sejati tergantung pada pengertian dari bentuk Agama Buddha ini, tetapi ajaran ini sering dipengerti secara salah. Kekosongan adalah kekosongan semata-mata dalam pengertian bahwa ia bebas dari batasan-batasan pengetahuan yang relatif pencerahan saja yang dapat menjelaskan apakah kekosongan itu sebenarnya.

Aliran Yogacarya, yang didirikan oleh dua cendekiawan besar Mahayana dalam banyak hal memiliki persamaan dengan aliran Madhyamika. Semua fenomena berasal dari pikiran dan tidak ada suatu apapun yang eksis selain pikiran. Sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Hinayana, Vijnanamatra berlanjut dengan pembagian analitis terhadap Pancaskandha dan elemen-elemen. Hasilnya berbeda dengan Hinayana dalam hal menegaskan bahwa bukan hanya objek-objek yang menglami perubahan, substansi-substansi juga tidak kekal menurut sistem pemikiran ini, spirit dan materi adalah satu dan semua objek eksternal adalah hasil dari satu pikiran aliran Mahayana. Tuhan dipahami dalam cara yang tidak jauh berbeda dengan agama-agama lain. Dalam aliran ini Tuhan dikenal melalui ajaran Trikaya dan AdhiBuddha

Ajaran Trikaya dikemukakan pertama kali oleh Asfagosha pada abad pertama Masehi untuk menerangkan Hirarki Para Buddha dengan Bodhisattwa. Trikaya timbul sebagai akibat dari adanya perbedaan pandangan terhadap Buddha dan manifestasinya dalam beberapa aliran agama Buddha yang mula-mula seperti Stafirafada, Mahasanghika dan Sarfastifada.

Selain Mahayana, filosofis Hinayana juga banyak dianut pada awal Masehi. Golongan ini dipimpin oleh Sthavira yang banyak dianggap sebagai madzhab Hinayana (kendaraan kecil) yang mempertahankan konsep kelepasan dari kebudayaan luar. Filosofis Hinayana adalah mencapai cita-cita tertinggi yaitu sebagai seorang arahat. Hal ini berlainan dengan cita-cita tertinggi pada filosofis Mahayana yaitu menjadi Bodhistwa.

Secara filosofis konsep ajaran Buddhisme Hinayana sesuai dengan keaslian ajaran Buddha. Hal ini karena secara filosofis Hinayana tidak mengenal adanya dewa-dewa penyelamat manusia. Dengan demikian, maka dalam Hinayana tidak terdapat upacara-upacara keagamaan dan pemujaan terhadap yang maha suci.

Berbeda dengan aliran Hinayana, Mahayana mengenal banyak politeisme dengan banyak dewa-dewa, sepertihalnya dalam agma Hindhu. Filosofis Mahayana mengenal faham trimurti Buddhisme yaitu kepercayaan terhadap adanya tokoh-tokoh kedewaan yang terdiri dari Dhyani Buddha, Manusia Buddha dan Dhyani Bodhisatwa yang kesemuannya merupakan pancaran energi yang bersumber pada Adi Buddha yang bersemayam di surga. Selain itu, Mahayana juga mempercayai adanya dewa-dewa lokapala yaitu dewa-dewa yang menjaga dunia diarah penjuru angin. Pada konsep Mahayana para dewa juga dipercaya mempunyai pendamping (Sakti). Dalam hal ritual keagamaan konsep Mahayana juga mengenal bentuk pemujaan kepada Buddha serta memberikan persembahan kepadanya.

Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa Candi Borobudur dengan arca Dhyni Buddha pada relung dan stupa teras, arca Dhyani Boddhisatwa Candi Mendut, dan pahatan relief Dhyani Bodhisatwa pada ambang pintu Candi Pawon menunjukkan bahwa ketiga Candi tersebut mempunyai filosofis Buddha Mahayana.

Shopping Basket