CANDI

adalah bangunan suci agama Hindu atau Buddha. Sebagai sebuah sistem, pada candi biasanya dapat dijumpai bangunan-bangunan seperti gapura, biara, bangunan perwara, bangunan induk, bangunan apit, pagar keliling, dan arca penjaga pintu.

Di Bali candi disebut pura/pure, di Jawa Timur juga disebut cungkup, sedangkan candi di Sumatera Barat dan Sumatera Utara ada yang menyebutnya sebagai biaro. Bangunan induk adalah bangunan utama pada candi yang menjadi pusat kesucian kompleks. Pada bangunan ini dapat ditemukan arca dewa-dewa utama yang menjadi objek pemujaan.

Bangunan perwara adalah bangunan-bangunan berukuran lebih kecil yang menjadi pelengkap atau penyerta bangunan induk. Bangunan yang berada di samping kiri-kanan bangunan induk disebut bangunan apit.

BUMI SAMBHARA BHUDHARA

adalah kalimat yang menurut J.G. de Casparis berasal dari kata kamulan bhumisambharabudara. Menurut J.G de Casparis, yang merupakan ahli prasasti, kata Borobudur berasal dari sepotong kalimat yang berbunyi Kamulan i bhumisambharabudara.

Istilah kamulan sendiri berasal dari kata mula yang berarti akar, tempat asal muasal, bangunan suci untuk memuliakan leluhur (kemungkinan leluhur dari Dinasti Syailendra). Berdasarkan kutipan kalimat dari prasasti Sri Kahulunan 842 M, Casparis memperkirakan bahwa BhÅ«mi Sambhāra Bhudhāra dalam bahasa Sanskerta berarti timbunan tanah, bukit atau tingkat-tingkat bangunan yang diidentikkan dengan sebutan candi Borobudur.

Dengan demikian, Kamulan i bhumisambharabudara mempunyai arti sebuah kuil nenek moyang dari Dinasti Syailendra di Borobudur.

BUDDHA TANTRAYANA

Tantrayana secara khusus merupakan kumpulan ajaran esoterik yang berkaitan dengan penyampaikan mantra, hal-hal magis, mandala, serta simbol-simbol yang mempengaruhi kehidupan. Istilah lain yang disejajarkan dengan tantrayana adalah Vajrayana, Mantrayana, Mantrayana, atau Sahajayana. Tantrayana dalam bahasa Barat juga disebut sebagai Tantrisme.

Aliran Tantrayana merupakan penafsiran ketiga dan terakhir terhadap filosofis Buddha setelah Mahayana dan Hinayana. Pembentukan Tantra dalam agama Buddha sudah berjalan dalam waktu yang lama antara lain dalam hal pemakaian mantra-mantra. Pada masa yang lebih awal, aliran pertama yang muncul sekitar 300 tahun setalah Sidharta Gautama wafat seperti Vatsiputriya dan Dharmagupta telah mempunyai koleksi mantra yang disebut dengan paritta.


Pada masa perkembangan Hindhu Buddha di nusantara aliran Tantrayana juga berkembang pada masa Kerajaan Mataram Kuna Periode Jawa Tengah yang diindikasikan dengan adanya tempat pemujaan terhadap Dewai Tara di Candi Kalasan, adanya Tathagata di Candi Borobudur dan Candi Ngawen, serta analisa terhadap mandala Candi Borobudur. Pada masa setelahnya, perkembangan tantrayana dapat dibuktikan oleh kitab Sang Hyang Kamahayanikan pada saat Dinasti Isyana berkuasa. Kitab tersebut banyak membahas mengenai praktek-praktek Tantrayana.

Pada masa Singhasari dan Majapahit pengaruh Tantrayana dapat dibuktikan pada arca-arca yang ditinggalkan serta penegasan dalam naskah Negarakertagama yang menyatakan bahwa penganut Buddha saat itu adalah alira Bajradara.

BODHISATTWA

adalah makhluk yang mendedikasikan dirinya demi kebahagiaan makhluk selain dirinya di alam semesta. Dapat juga diartikan “calon Buddha”.

Dalam bahasa Sanskerta, istilah Bodhisatwa terdiri dari dua kata, yaitu bodhi yang berarti pencerahan atau penerangan, dan sattwa yang berarti makhluk. Bodhisatwa juga merujuk kepada Buddha di kehidupan sebelum-Nya.

Dalam ajaran Mahayana, Bodhisatwa mengambil janji untuk tidak memasuki nirwana sebelum semua makhluk mencapai ke-Buddha-an. Artinya ia menunda memasuki nirwana dan memilih turun ke bumi mengorbankan dirinya untuk membantu makhluk lain mencapai pencerahan. Karena itulah Bodhisatwa dikenal memiliki sifat welas asih dan sifat tidak mementingkan diri sendiri dan rela berkorban.

BODHGAYA

adalah tempat Buddha menerima wahyu. Bodh Gaya atau Bodhgaya adalah nama sebuah kota di distrik Gaya di negara bagian Bihar – India. Tempat ini terkenal sebagai tempat Buddha Gautama mencapai nirvana (Pencerahan).

Menurut sejarah, tempat tersebut dikenal sebagai Bodhimanda (tanah di sekitar pohon Bodhi), Uruvela, Sambodhi, Vajrasana dan Mahabodhi. Nama Bodh Gaya tidak digunakan hingga abad ke-18. Vihara utama Bodhgaya dulu disebut Bodhimanda-Vihara (Pali). Sekarang disebut Vihara Mahabodhi.

Bagi umat Buddha, Bodh Gaya adalah tempat yang paling penting dari empat utama situs ziarah buddhis yang terkait dengan masa kehidupan Buddha Gautama, tiga tempat suci lainnya adalah Kushinagar, Lumbini, dan Sarnath. Pada tahun 2002, Vihara Mahabodhi yang terletak di Bodh Gaya, menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO.

BHUMISPARSAMUDRA

adalah sikap tangan (mudra) Dhyani Buddha Aksobhya yang berkuasa di sebelah Timur. Sikap tangannya memanggil bumi sebagai saksi waktu Buddha digoda oleh Mara di bawah pohon bodhi.

Dhyani Buddha Aksobhya merupakan arca yang berada di sisi Timur pada relung pagar langkan tingkat I hingga IV.