SIDDHARTA GAUTAMA

Siddharta Gautama juga dikenal dengan sebutan Sakyamuni. Ayah dari Pangeran Siddhartha Gautama adalah Sri Baginda Raja Suddhodana dari Suku Sakya dan ibunya adalah Ratu Mahāmāyā Dewi. Ibunda Pangeran Siddharta Gautama meninggal dunia tujuh hari setelah melahirkan Pangeran. Setelah meninggal, dia terlahir di alam/surga Tusita, yaitu alam surga luhur. Sejak meninggalnya Ratu Mahāmāyā Dewi, Pangeran Siddharta dirawat oleh Ratu Mahā Pajāpati, bibinya yang juga menjadi isteri Raja Suddhodana. Pangeran Siddharta dilahirkan pada tahun 623 SM di Taman Lumbini, saat Ratu Maha Maya berdiri memegang dahan pohon sala. Pada saat ia lahir, dua arus kecil jatuh dari langit, yang satu dingin sedangkan yang lainnya hangat. Arus tersebut membasuh tubuh Siddhartha. Siddhartha lahir dalam keadaan bersih tanpa noda, berdiri tegak dan langsung dapat melangkah ke arah utara, dan tempat yang dipijakinya ditumbuhi bunga teratai. Siddhartha Gautama adalah guru spiritual dari wilayah Timur Laut India yang juga merupakan pendiri Agama Buddha Ia secara mendasar dianggap oleh pemeluk Agama Buddha sebagai Buddha Agung (Sammāsambuddha) pada masa sekarang. Waktu kelahiran dan kematiannya tidaklah pasti sebagian besar sejarawan dari awal abad ke 20 memperkirakan kehidupannya antara tahun 563 SM sampai 483 SM, ada juga yang menyebut tahun 623 SM sampai 543 SM. Cerita perjalanan hidup Siddharta Gautama dapat dijumpai pada panil relief cerita Candi Borobudur. Relief tersebut adalah relief Lalitavistara pada dinding lorong I deretan panil atas. Relief Lalitavistara terdiri dari 120 panil relief dimulai dari sisi timur sebelah kiri tangga. Cara pembacaan relief tersebut adalah secara pradaksina.

RELIK

Peninggalan – peninggalan yang dianggap suci; benda – benda, pakaian, tulang belulang Sang Buddha, arahat dan bhiksu terkemuka (dinamakan juga dhatugarbha (dagoba). Pada waktu diadakan penggalian tanah di bawah stupa induk Candi Borobudur pada tahun 1842 oleh Residen Kedu bernama Hartmann, tidak ditemukan relik.

REINKARNASI

Adalah kepercayaan bahwa seseorang itu akan mati dan dilahirkan kembali dalam bentuk kehidupan lain. Yang dilahirkan itu bukanlah wujud fisik sebagaimana keberadaan kita saat ini. Yang lahir kembali itu adalah jiwa orang tersebut yang kemudian mengambil wujud tertentu sesuai dengan hasil perbuatannya terdahulu. Terdapat dua aliran utama yaitu mereka yang mempercayai bahwa manusia akan terus menerus lahir kembali dan mereka yang mempercayai bahwa manusia akan berhenti lahir semula pada suatu ketika apabila mereka melakukan kebaikan yang mencukupi atau apabila mendapat kesadaran agung (nirvana) atau menyatu dengan Tuhan (moksha). Agama Hindu menganut aliran yang kedua. Kelahiran kembali adalah suatu proses penerusan kelahiran di kehidupan sebelumnya. Dalam agama Hindu dan Buddha, filsafat reinkarnasi mengajarkan manusia untuk sadar terhadap kebahagiaan yang sebenarnya dan bertanggung jawab terhadap nasib yang sedang diterimanya.


Selama manusia terikat pada siklus reinkarnasi, maka hidupnya tidak luput dari duka. Selama jiwa terikat pada hasil perbuatan yang buruk, maka ia akan bereinkarnasi menjadi orang yang selalu duka. Dalam filsafat Hindu dan Buddha, proses reinkarnasi memberi manusia kesempatan untuk menikmati kebahagiaan yang tertinggi. Hal tersebut terjadi apabila manusia tidak terpengaruh oleh kenikmatan maupun kesengsaraan duniawi sehingga tidak pernah merasakan duka, dan apabila mereka mengerti arti hidup yang sebenarnya. Dalam agama Buddha dipercayai bahwa adanya suatu proses kelahiran kembali (Punabbhava). Semua makhluk hidup yang ada di alam semesta ini akan terus menerus mengalami tumimbal lahir selama makhluk tersebut belum mencapai tingkat kesucian Arahat. Alam kelahiran ditentukan oleh karma makhluk tersebut, bila ia baik akan terlahir di alam bahagia, bila ia jahat ia akan terlahir di alam yang menderitakan. Kelahiran kembali juga dipengaruhi oleh Garuka Kamma yang artinya karma pada detik kematiannya, bila pada saat ia meninggal dia berpikiran baik maka ia akan lahir di alam yang berbahagia, namun sebaliknya ia akan terlahir di alam yang menderitakan, sehingga segala sesuatu tergantung dari karma masing-masing.

RATNASAMBHAWA

Ratnasambhawa adalah salah satu arca Dhyani Buddha yang dijumpai pada struktur pagar langkan Candi Borobudur. Arca Dhyani Buddha Ratnasambhawa berada pada pagar langkan sisi timur lantai III – VI dan divisualisasikan dalam bentuk laki-laki yang sedang duduk bersila di atas asana berupa padma (padmasana). Pada bagian kepala memiliki rambut keriting mengikal ke kanan (pradaksinawartakesa) dengan tonjolan gelung rambut (usnisa) pada bagian ubun-ubun. Bentuk wajahnya persegi dengan eskpresi wajahnya tenang (saumya) dengan dahi yang memiliki pahatan berupa tonjolan kecil (urna) pada bagian tengah-tengahnya. Alis matanya tipis dengan pandangan yang teduh ke arah bawah. Bagian leher arca bergaris 3 dengan telinga panjang pada bagian bawahnya. Pipi arca dipahatkan gemuk dengan hidung yang mancung dan bibir yang tipis. Pada dasarnya arca Dhyani Buddha Ratnasambhawa mengenakan jubah tipis sepertihalnya sutera tipis yang menutup seluruh bagian tubuhnya kecuali bagian kepala, leher, dan dada kanan. Sikap tangan (mudra) Dhyani Buddha Ratnasambhawa adalah waramudra yaitu Telapak tangan kanannya menengadah ke depan dan diletakkan di atas lutut kanan. Sedangkan telapak tangan kirinya menengadah ke atas dengan punggung tangan ditempelkan pada bagian pergelangan kaki (gulpha) dan tumit (parsni) dalam posisi kaki bersila. Sikap tangan waramudra tersebut mempunyai makna sang Buddha yang memberikan berkah dan anugerah.

PRADAKSINA

Adalah perjalanan mengelilingi Candi Borobudur searah dengan jarum jam. Perjalanan pradaksina menganankan bangunan candi dan dimulai dari sisi timur relief, karena relief-relief naratif bermula dari sisi timur menuju ke selatan, barat, utara, dan berakhir di sisi timur pula. Menurut Agus Aris Munandar (2011) yang mengutip dari Coomaraswarny, 1965 dan Anom, 2000, perjalanan keliling Borobudur yang dilakukan oleh para peziarah masa silam, mungkin sama dengan yang dilakukan oleh umat Buddha India kuna di Stupa Sanci. Stupa di India utara dilengkapi dengan 4 pintu gerbang (torana), masing-masing gerbang tersebut sebenarnya melambangkan tahapan hidup Siddharta Gautama. Pintu timur adalah kelahiran (Buddhajati), pintu selatan melambangkan pencerahan (Sambhodi), pintu barat melambangkan pengajaran (khotbah) yang pertama (Dharmacakrapravarttana), dan pintu utara lambang masuk Nirwana (Parinirvana).

NIRWANA

adalah adalah kulminasi pencarian umat Buddha terhadap kebebasan. Siddartha Gautama, Buddha, menjelaskan Buddhisme sebagai sebuah rakit yang, setelah mengapung di atas sungai, akan memperbolehkan sang penumpangnya untuk mencapai nirwana.

Dalam pengertian yang lebih dalam, Nibbana adalah kebahagiaan tertinggi, suatu keadaan kebahagiaan abadi yang luar biasa. Kebahagiaan Nibbana tidak dapat dialami dengan memanjakan indera, melainkan dengan menenangkannya.

Nibbana bukanlah suatu tempat. Nibbana bukanlah suatu ketiadaan atau kepunahan. Nibbana bukanlah suatu surga. Tidak ada kata yang cocok untuk menjelaskan NibbanaNibbana dapat direalisasi dengan cara melenyapkan keserakahan (lobha), kebencian (dosa) dan kebodohan batin (moha).

Cara untuk mencapai Nibbana adalah dengan mempraktekkan sendiri Jalan Mulia Berunsur Delapan, yaitu:

  • Pengertian Benar (Samma ditthi),
  • Pikiran Benar (Samma sankappa),
  • Ucapan Benar (Samma vaca),
  • Perbuatan Benar (Samma kammanta),
  • Penghidupan/Mata Pencaharian Benar (Samma ajiva),
  • Usaha/Daya Upaya Benar (Samma vayama),
  • Perhatian Benar (Samma sati),
  • Konsentrasi/Meditasi Benar (Samma samadhi).

MUDRA

adalah sikap tangan yang merupakan ciri khas dari patung Buddha yang menunjukkan arah mata angin, dalam bahasa Sanskerta artinya “lambang” atau “segel”. Mudra adalah gestur atau sikap tubuh yang bersifat simbolis atau ritual dalam Hinduisme dan Buddhisme.

Ada beberapa mudrā yang melibatkan seluruh anggota tubuh, akan tetapi kebanyakan hanya dilakukan dengan tangan dan jari. Mudrā adalah gestur spiritual dan penanda energi dan keaslian dalam ikonografi dan praktik spiritual dalam tradisi agama Dharma serta Taoisme.

Di Candi Borobudur terdapat 6 sikap mudra yang berbeda.

MANOHARA

adalah salah satu relief cerita yang ada di Candi Borobudur, yang terletak di dinding Tingkat 3 Sisi Timur bagian bawah. Relief cerita Manohara terdiri dari 20 panil cerita. Relief cerita Manohara mengkisahkan tentang kisah percintaan antara pangeran Sudhana (Bodhisatta) dan putri Kinnari Manohara.

Kisah Manohara ini sangat popular di kalangan umat Buddha. Kisah ini pertama kali muncul dalam Mahavastu Avadana bagian Kinnari Jataka, sebuah teks dari sekte Mahasanghika. Kemudian ditemukan juga versi cerita ini di kitab-kitab sekte Sarvastivada dan Mulasarvastivada seperti Bhaisajyavastu (Mulasarvastivada Vinaya), Sudhanakumaravadana (Divyavadana) dan Avadanakalpalata.

Belakangan, pada abad 15 M, sekte Theravada memasukkan kisah ini dalam kumpulan Pannasa Jataka.


Relief Manohara pada Candi Borobudur (sumber: https://www.photodharma.net)

Shopping Basket