YANTRA

Apabila dikaitkan dengan ritual peribadatan umat Hindhu maupun Buddha adalah media untuk memusatkan tenaga dan pikiran pada saat melakukan pemujaan terhadap dewa. Yantra secara harfiah artinya adalah alat tenun, alat secara umum atau mesin. Kata jantera dalam bahasa Indonesia memiliki etimologi yang sama. Dalam penggunaan sehari-hari pada hakekatnya yantra adalah gambaran simbolik aspek Ketuhanan, biasanya Dewi Bunda atau Durga.

Yantra merupakan matriks yang saling berpautan berbentuk figur-figur geometris, lingkaran, segitiga dan pola bunga bentuk fraktal pola keanggunan dan kecantikan. Meskipun tergambar di dua dimensi, yantra seharusnya mewakili tiga dimensi obyek suci. Yantra juga sebagai alat meditasi yang digunakan baik oleh seorang pertapa ataupun seorang ahli pahat patung. Dipercaya bahwa yantra mistik mengungkapkan bentuk-bentuk dasar yang berlimpah-limpah di alam semesta.

Di Indonesia, bangunan Candi Borobudur yang memiliki teras bertingkat atau tingkatan merupakan salah satu contoh Çri-Yantra. Bangunan ini didirikan pada pondasi persegi dengan empat pintu masuk. Masuk (gapura pintu masuk) serta lima tembok keliling di masing-masing terasnya serta tiga teras lagi yang melingkar dan dipenuhi dengan arca-arca Buddha. Akhirnya pada tingkat yang kesembilan yang merupakan mahkotanya memiliki stupa induk yang merupakan kekuasaan dari Buddha tertinggi. Çri Yantra sendiri pada dasarnya memiliki tiga dimensi, sebagaimana halnya dengan gunung yang berteras-teras. Baik antara Yantra dan Stupa memiliki kesamaan skema kosmologis, yaitu menggambarkan dunia gunung mistis, yaitu Gunung Meru. Untuk memahami secara utuh gambaran tentang Borobudur maka harus dipahamai melalui Çri Yantra. Teras-teras yang ada di Borobudur itu sendiri juga dapat dianggap sebagai tingkatan-tingkatan perjalanan jiwa dalam mencapai kesempurnaan. Di dalam stupa seolah-olah digambarkan perjalanan dimulai dari bawah dengan keempat pintunya, selanjutnya makin naik melingkar menyerupai spiral hingga mencapai tingkatan yang kosong, seolah-olah berkembang dari dunia keberadaan menuju dunia jiwa. Hal ini sangat sesuai dengan perjalanan sadhaka dari dunia material menuju dunia spiritual selama menyelenggarakan meditasi Çri Yantra. Dalam kaitannya dengan arsitektur, suatu yantra bukanlah merupakan denah (ground-plan) untuk suatu candi, melainkan skema dasar tentang denah-denah suci dalam pembangunan suatu candi yang harus dipenuhi. Dasar anggapan ini terutama karena dimensi serta ukuran arsitektur kuil atau candi dianggap sebagai hal yang sifatnya spesifik dan oleh karenanya maka diperlukan aturan-aturan yang sifatnya ritual dalam rangka menyusun kerangka dasarnya.

Irisan melintang Candi Borobudur merupakan perwujudan yantraIrisan melintang Candi Borobudur merupakan perwujudan yantra

TRIBANGHA

Adalah penggambaran posisi tubuh “lekuk tiga” yaitu melekuk atau sedikit condong pada bagian leher, pinggul, dan pergelangan kaki dengan beban tubuh hanya bertumpu pada satu kaki, sementara kaki yang lainnya dilekuk beristirahat. Posisi tubuh ini biasa digambarkan dalam relief berwujud manusia mulia seperti pertapa, raja, dan wanita bangsawan, bidadari atapun makhluk yang mencapai derajat kesucian laksana dewa, seperti tara dan boddhisatwa.

TRI RATNA

Adalah tiga mustika atau tiga permata. Dalam agama Buddha tri ratna yang dimaksud adalah Buddha (yang juga diartikan sebagai Sang Buddha Gautama sebagai guru dan juga dapat diartikan sebagai sifat kebuddhaan yang dimiliki oleh setiap manusia), Dhamma (ajaran Buddha, yang merupakan kebenaran mutlak), Sangha (Sangha seringkali dikaitkan sebagai pengawal dan pelindung Dhamma. Sangha juga adalah suatu persaudaraan suci orang-orang yang telah mencapai tingkatan kesucian: SotapannaSakadagamiAnagamiArahat.