AKUADES

adalah air hasil proses penyulingan atau distilasi. Proses penyulingan menyebabkan air yang dihasilkan menjadi lebih murni dan sangat sedikit mengandung senyawa-senyawa terlarut. Akuadest digunakan pada pekerjaan laboratorium dan konservasi di lapangan. Di laboratorium akuades digunakan untuk membuat larutan pereaksi untuk analisis dan percobaan. Pada konservasi terhadap cagar budaya, akuades digunakan sebagai pembersih dan pelarut bahan-bahan konservan tertentu yang memerlukan pelarutan atau pengenceran dengan air.

Kegiatan konservasi Candi Borobudur tidak terlepas dari analisis laboratorium. Beberapa sampel yang diperoleh dari Candi Borobudur dan kegiatan konservasinya diambil secara periodik dan dianalisis di laboratorium. Akuades digunakan sebagai pelarut dari bahan-bahan kimia yang digunakan dalam analisis di laboratorium.

AKUABIDES

adalah air hasil penyulingan dua kali. Akuades yang diperoleh dari proses penyulingan pertama disuling kembali untuk menghasilkan akuabides. Penyulingan dua kali membuat air semakin murni. Akuabides terutama digunakan untuk pekerjaan analisis laboratorium yang membutuhkan pereaksi dengan kemurnian tinggi, misalnya analisis sampel dengan kadar analit yang sangat rendah. Beberapa parameter yang diukur pada sampel yang diambil dari Candi Borobudur memerlukan instrumen khusus yang dalam operasionalnya menggunakan akuabides. Salah satunya adalah analisis unsur menggunkan SSA (Spektroskopi Serapan Atom/ Atomic Absorption Spectrophotometer). Instrumen pengukuran unsur ini sangat sensitif sehingga membutuhkan pelarut yang lebih murni, yaitu akuabides.

AGREGAT

adalah sebuah campuran pasir dan batu, komponen utama dari beton. Bahan berupa butiran mineral yang berfungsi sebagai bahan pengisi dalam campuran mortar yang jumlahnya kurang lebih 70% dari seluruh material mortar. Agregat dapat berupa material alam dan material buatan. Contoh material alam adalah bubukan batu dan pasir, sedangkan material buatan berupa bubukan bata dan bubukan gerabah. Adapun ukuran dapat berupa material halus yang ukuran butiranya kecil atau butiran kasar yang ukuran butiranya besar.

Dalam kegiatan konservasi di Candi Borobudur, mortar digunakan untuk mengisi celah antar sambungan, retakan dan celah antar blok batu pada lantai teras dan undag. Saat ini mortar untuk mengisi sambungan dan retakan menggunakan agregat dari bubukan batu. Sedangkan agregat yang digunakan untuk mengisi celah antar blok batu pada lantai undag dan teras menggunakan bubukan bata dan pasir.

ADDITIVE

adalah bahan tambahan yang ditambahkan pada mortar yang berfungsi sebagai penguat, pengeras ataupun sebagai pewarna. Contoh bahan tambahan pada mortar antara lain epoksi resin, silikatek, serat/fiber, karbon dari arang. Epoksi resin pernah digunakan sebagai campuran dalam mortar saat pemugaran tahap II Candi Borobudur tahun 1973-1983.

AC 322

adalah bahan Biosida yang digunakan untuk menghilangkan faktor biologis (jamur, algaelichens, lumut) yang dapat melapukkan batuan Candi Borobudur. Komposisi bahan ini terdiri dari campuran EDTA (ethylenediaminetetraacetic acid), sodium bikarbonat (NaHCO3), ammonium bikarbonat (NH4HCO3), karboksimetil, deterjen, dan desinfektan. Di negara-negara maju seperti Amerika dan Eropa, AC322 biasa disebut dengan AB57. Bahan ini sudah tidak digunakan lagi untuk pemeliharaan Candi Borobudur.