BATUAN

adalah massa materi mineral, baik yang kompak keras maupun yang tidak, yang membentuk bagian kerak bumi. Batuan dapat terdiri dari satu macam mineral atau kumpulan berbagai macam mineral.

Berdasarkan cara terbentuknya di alam, batuan dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu batuan beku, batuan sedimen dan batuan metamorf. Batu penyusun Candi Borobudur merupakan batuan beku jenis andesit.

BATU ANDESIT

adalah salah satu jenis Batuan Beku yang terbentuk dari proses pembekuan lelehan lava gunung merapi yang meletus. Lelehan Lava ini akan membeku ketika temperatur lava turun hingga 900 – 1100 derajat celcius. Batu Andesit merupakan tipikal batu penyusun Candi Borobudur


Batu andesit penyusun Candi Borobudur

BASA

adalah istilah untuk senyawa yang secara kimia cenderung menyumbangkan sepasang elektron untuk digunakan bersama-sama dan cenderung menerima proton. Kelompok senyawa ini merupakan pasangan dari asam (memiliki sifat kebalikan). Skala pengukuran tingkat asam-basa (pH) pada larutan adalah 0 – 14, di mana larutan dikatakan bersifat basa jika pH-nya lebih dari 7.

Tingkat kebasaan yang tinggi pada larutan disebabkan oleh adanya basa kuat dalam larutan, umumnya basa kuat merupakan senyawa hidroksida antara lain NaOH, KOH, Ca(OH)2 dan lain-lain. Senyawa tersebut dalam air akan terionisasi menghasilkan ion OH- yang menyebabkan pH menjadi meningkat.

Larutan basa dapat bereaksi dengan senyawa silika sehingga pada kadar tinggi dapat melapukkan batu andesit yang kaya silika. Oleh karena itu larutnya senyawa-senyawa basa dalam air yang mengalir pada batu-batu Candi sangat dihindari.

Di Candi Borobudur potensi larutnya senyawa basa bisa berasal dari beton yang ada dalam struktur candi, sehingga fungsi lapisan kedap air menjadi sangat penting untuk mencegah kebocoran.

BAHAN KONSERVAN

adalah bahan yang digunakan untuk memelihara dan mengawetkan benda cagar budaya dalam rangka mencegah dan menghambat kerusakan serta pelapukan lebih lanjut.

Bahan konservan sebelum digunakan pada batuan Candi Borobudur terlebih dahulu dilakukan pengujian di laboratorium dan di lapangan untuk mengetahui efektivitas dan pengaruhnya terhadap material batuan candi dan benda cagar budaya lainnya.

BAHAN KEDAP AIR

atau Water Proofing adalah bahan yang termasuk ke dalam polimer thermosetting yang biasanya ditambah TAR agar dapat menahan tekanan dan desakan. Bahan ini digunakan pada batuan Candi Borobudur dan Candi Mendut untuk menolak air. Sebagai contoh Araldite TAR yang dapat digunakan untuk lapisan kedap air.

Araldite TAR terdiri dari dua komponen, yaitu resin dan hardener yang percampurannya dengan perbandingan 1:1 pbw. Contoh bahan lain adalah Sikatop Seal 107. Bahan ini terdiri dari dua komponen; komponen A berupa cairan berwarna putih menyerupai latek dan komponen B berupa serbuk berwarna hijau keabu-abuan menyerupai semen PC.

Untuk aplikasinya, kedua komponen tersebut dicampur dengan perbandingan 1:2 (berdasarkan volume) dan perbandingan 1:4 (berdasarkan berat).

ASAP CAIR

merupakan asam cuka (veenegar) yang diperoleh melalui proses pirolisis bahan yang mengandung selulosa, hemiselulosa, dan lignin pada suhu 4000C selama 90 menit, kemudian diikuti proses kondensasi dalam kondensor pendingin. Asap cair tempurung kelapa memiliki kandungan senyawa fenol 4,13%, asam 10,2%, dan karbonil 11,3%. Kandungan tersebut diketahui dapat berfungsi sebagai bahan antimikroorganisme dan antirayap.

Asap cair merupakan bahan kimia hasil destilasi asap hasil pembakaran yang mampu menjadi desinfektan sehingga bahan makanan dapat bertahan lama tanpa membahayakan konsumen. Pemanfaatan limbah kayu sebagai asap cair telah mendapat perhatian belakangan ini. Pada umumnya diperoleh secara pirolisis. Pada proses pirolisis terjadi dekomposisi dari senyawa selulosa, hemi selulosa dan lignin.


Asap cair mengandung beberapa zat antimikroba, antara lain:

1. Asam dan turunannya: format, asetat, butirat, propionate, metal ester

2. Alkohol: metil, etil, propil, alkil, dan isobutyl alcohol

3. Aldehid: formaldehid, asetaldehid, furfural, dan metil furfural

4. Hidrokarbon: silene, kumene, dan sumene

5. Keton: aseton, metil etil keton, metil propil keton, dan etil propil keton

6. Fenol

7. Piridin dan metil piridin

Mutu dan kualitas asap yang dihasilkan tergantung dari jenis kayu, kadar air, dan suhu pembakaran yang digunakan dalam proses pengasapan. Untuk mendapatkan mutu dan volume asap sesuai yang diharapkan digunakan jenis kayu keras (non-resinous) seperti tempurung kelapa. Bila menggunakan kayu yang lunak (resinous), asap yang dihasilkan banyak mengandung senyawa dan bau yang tidak diharapkan. Oleh karena itu, asap cair kemungkinan dapat dimanfaatkan untuk konservasi cagar budaya berbahan kayu dengan adanya kandungan di atas.

ASAM SITRAT

adalah larutan yang mempunyai sifat asam lemah, biasanya digunakan untuk kegiatan perawatan benda-benda logam seperti menghilangkan korosi besi. Asam sitrat merupakan salah satu bahan yang diuji cobakan untuk membersihkan endapan garam yang menempel pada permukaan batuan dinding Candi Borobudur.

ARALDITE TAR

adalah merek dagang bahan pelapis kedap air. Berbentuk cairan kental yang tersusun atas dua komponen, dicampur secara homogen sesaat sebelum digunakan. Araldite tar merupakan polimer berbahan epoksi resin yang dimodifikasi dengan campuran tar. Epoksi bersifat kuat, tahan lama, dan stabil oleh kondisi lingkungan, namun kaku dan getas (dapat patah pada tekanan tinggi). Tar merupakan hasil samping pengolahan minyak bumi yang kental berwarna hitam. Pencampuran tar ke dalam epoksi akan meningkatkan sifat elastisitas, sehingga cocok untuk digunakan sebagai bahan pelapis kedap air. Apabila diaplikasikan pada struktur/bangunan, Araldite tar akan mengikat kuat namun elastis mengikuti pergerakan yang terjadi. Sifat yang kuat dan elastis membuat Araldite tar mampu menjadi bahan pelapis yang kedap air dan tidak mudah bocor jika terjadi pergerakan akibat kembang susut atau pergeseran struktur.


Araldite Tar cukup banyak digunakan di Candi Borobudur untuk pembuatan lapisan kedap air. Pada pemugaran Borobudur 1973-1983, struktur Candi Borobudur diperkuat dengan beton bertulang serta dibuat sistem drainase yang baru. Pengendalian air menjadi sangat vital di Candi Borobudur, agar air hujan yang jatuh dapat diarahkan mengikuti sistem drainase yang ada. Air yang masuk ke dalam struktur dan mengenai beton akan berbahaya, karena dapat melarutkan garam-garam yang terkandung dalam beton yang selanjutnya mengendap di permukaan. Oleh karena itu kinerja lapisan-lapisan kedap air untuk melindungi masuknya air ke dalam beton, serta melindungi air mengalir ke permukaan dinding relief sangat penting.

Bahan Araldite Tar sudah teruji mampu menjadi lapisan kedap air untuk pengendalian air, selama pemasangan sistemnya tepat. Pada beberapa posisi pemasangan lapisan kurang tepat sehingga mengakibatkan kebocoran dan selanjutnya telah diperbaiki. Pada proses perbaikan kebocoran, Araldite Tar juga digunakan untuk melapisi permukaan lapisan timbal yang digunakan di Candi Borobudur.

Shopping Basket