KERTAS SARING

adalah kertas yang terbuat dari selulosa murni digunakan untuk memisahkan partikel suspensi dengan cairan atau memisahkan zat terlarut dengan zat padat.

Kertas saring digunakan untuk menyaring air filter layer, air bak kontrol, air hujan Candi Borobudur sehingga siap untuk dilakukan pengujian kandungan kimiawinya. Selain itu juga digunakan untuk memisahkan filtrat dan presipitat dari proses destruksi endapan garam, batu, mortar Candi Borobudur dan material cagar budaya lainnya.

Gambar kertas saring

KEKERASAN

atau hardness (ing) adalah ketahanan suatu material untuk tidak mengalami perubahan bentuk secara permanen akibat diberikan gaya tekan. Ada 3 jenis pengukuran kekerasan, yaitu dengan cara digores (scratch hardness), ditekan (indentation hardness) dan melalui pantulan (rebound hardness).

Pada scratch hardness diukur ketahanan suatu material untuk tidak tergores setelah digesek dengan menggunakan benda tajam. Hasil pengukuran ini dinyatakan dalam skala Mohs.

Pada indentation hardness diukur ketahanan suatu material untuk tidak mengalami deformasi setelah ditekan dengan tenaga konstan.

Sedangkan pada rebound hardness diukur tinggi pantulan hammer yang menumbuk permukaan suatu material. Hasil yang terukur menunjukkan sifat elastisitas material. Kekerasan pada batu menunjukkan kondisi batu tersebut, bila kekerasan batu semakin menurun maka sudah terjadi pelapukan atau kerusakan pada batu tersebut.

KAYU

adalah bagian batang atau cabang pokok yang keras dari pohon yang minimal berdiameter 16 cm. Kayu merupakan salah satu material penyusun cagar budaya di Indonesia. Kayu yang biasanya digunakan sebagai material cagar budaya umumnya bagian batang berupa kayu teras dan kayu gumbal.

Kayu banyak digunakan sebagai material cagar budaya, karena kayu mudah didapat, keras, mudah dibentuk, dan tahan terhadap gerakan.

Namun kayu juga memiliki beberapa kelemahan, yakni higroskopis (mudah menyerap air), mudah diserang serangga, jamur, dan bakteri. Kayu merupakan salah satu jenis material yang dipelajari dalam kegiatan kajian konservasi cagar budaya di Balai Konservasi Candi Borobudur.

KARBORUNDUM

atau silikon karbida adalah senyawa dengan rumus kimia SiC, digunakan sebagai ampelas dan asahan. Karborundum digunakan untuk mengamplas batuan dalam pembuatan sampel sayatan tipis untuk pengujian jenis mineral dalam batuan.

Karborundum digunakan untuk pembuatan sampel sayatan tipis batuan penyusun Candi Borobudur untuk mengetahui jenis mineral penyusunnya.

KAPUR

adalah bahan yang diperoleh dari pembakaran batu kapur (gamping), yang biasa dipakai sebagai bahan campuran bangunan. Kapur secara kimia merupakan senyawa kalsium oksida yang diperoleh dari penguraian kalsium karbonat yang dipanaskan pada suhu tinggi. Di bidang pembangunan, kapur digunakan sebagai bahan campuran mortar (spesi atau acian) pada pasangan bata. Kapur bersama dengan campuran mortar dapat mengalami pengerasan sehingga dapat membentuk bangunan yang kokoh.


Pada kegiatan konservasi, mortar digunakan sebagai bahan pengisi nat (celah batu) untuk mengurangi masuknya air ke dalam struktur bangunan. Pada bangunan yang terbuat dari spesi dan plesteran seperti bangunan kolonial atau rumah tembok, kapur merupakan komponen utama dalam membuat mortar untuk perbaikan.

Kapur digunakan di Candi Borobudur sebagai komponen mortar pada pemugaran pertama tahun 1907-1911 oleh van Erp. Mortar tersebut digunakan untuk mengisi celah antar batu yang cukup lebar di bagian lantai selasar dan lantai teras stupa.

KAIN JARIK

adalah sejenis kain dengan ukuran panjang yang diberi motif batik dan digunakan untuk menutupi tubuh bagian bawah. Pengunjung di Candi Borobudur ketika memasuki area candi diberikan kain jarik untuk menutupi tubuh bagian bawah agar terlihat lebih sopan, sebagai salah satu penghormatan ketika memasuki tempat sakral.


Kain Jarik yang dikenakan pengunjung Candi Borobudur (sumber: https://ekaputrinovianti.files.wordpress.com)

Shopping Basket