OPAK

adalah sifat mineral dimana mineral tidak tembus cahaya meskipun dalam bentuk helaian/lembaran yang sangat tipis. Biasanya mineral ini mempunyai kilap metalik.

Contoh mineral opak pada batu penyusun Candi Borobudur adalah mineral magnetit.


Mineral magnetit yang terkandung dalam batu penyusun candi (sumber: www.geology.neab.net)

OCHRE

atau oker adalah bahan pewarna yang pada awalnya digunakan untuk pewarna dinding. Oker dibuat dari bahan alam yang mengandung mineral dengan warna tertentu yang dicampur dengan tanah liat dan campuran lainnya. Warna oker umumnya berkisar antara kuning, jingga, dan cokelat.

Oker pernah diaplikasikan pada relief Candi Borobudur setelah pemuragan pertama (tahun 1907-1911). Alasan aplikasi bahan ini diduga untuk membuat warna relief yang lebih cerah sehingga dapat difoto dengan lebih baik (teknologi fotografi saat itu belum bisa merekam objek berwarna gelap dengan baik).

Namun ada pendapat lain yang mengatakan bahwa bahan tersebut berfungsi sebagai konsolidan untuk menguatkan material batu candi yang mulai rapuh. Lapisan warna ini sebagian masih bertahan hingga saat ini sehingga mengurangi nilai estetika.


Batu candi berwarna kuning karena dilapisi bahan pewarna oker

NATRIUM BIKARBONAT

atau natrium hidrogen karbonat adalah garam asam dengan rumus kimia NaHCO3, serbuk putih dan mudah larut dalam air. Digunakan sebagai oksidator, pemadam api, dan sebagai antasid (penetral asam).

Natrium bikarbonat pernah digunakan untuk menetralkan sifat asam dari abu vulkanik yang menyelimuti permukaan bangunan Candi Borobudur ketika terjadi erupsi Gunung Merapi pada tahun 2010.

MORTAR HIDROLIK

adalah mortar yang dalam proses pembuatanya menggunakan air dan membentuk bentuk benda padat yang tidak larut dalam air. Mortar yang pernah digunakan di Candi Borobudur adalah mortar Van Erp dan mortar epoksi resin.

Mortar Van Erp yang merupakan campuran pasir, bubukan bata, dan kapur sedangkan mortar epoksi resin adalah mortar yang berasal dari campuran bubukan batu atau pasir ditambah epoksi resin. Mortar ini digunakan saat pemugaran Candi Borobudur tahap II tahun 1973-1983.

MORTAR

Merupakan adukan semen (campuran semen, pasir, dan kapur). Pada pemugaran I Candi Borobudur tahun 1907 – 1911 oleh van Erp mengadopsi konsep pengendalian air pada konstruksi asli, yaitu mengalirkan air hujan pada permukaan bangunan. Oleh karena itu, pada bagian Kamadhatu (selasar dan undhag) sela-sela batu diisi dengan mortar agar air tidak masuk ke dalam susunan batu. Begitu pula bagian Arupadhatu (stupa dan lantai terasnya) juga dikendalikan airnya dengan cara menutup sela-sela batu dengan mortar.

Pada lantai teras terdapat penambahan satu lapis batu dengan ketebalan sekitar 5 cm diatas batu lantai asli. Satu lapis batu tipis ini direkatkan dengan mortar dan sela-sela batunya juga ditutup dengan mortar.Bagian Rupadhatu sedikit berbeda karena bagian ini tidak ditata ulang (tidak dibongkar total sebelum ditata). Untuk mengendalikan air, lantai diratakan dan ditutup dengan mortar. Bagian yang bergelombang diisi dengan tanah urug dan selanjutnya ditutup dengan satu lapis batu tipis (sekitar 5 cm) yang direkatkan dengan mortar dan sela-selanya juga ditutup dengan mortar.

MINYAK ATSIRI

atau minyak esensial (essential oil); minyak eterik (aetheric oil); minyak terbang (volatile oil); minyak aromatik (aromatic oil); adalah kelompok besar minyak nabati yang berwujud cairan pada suhu ruang namun mudah menguap sehingga memberikan aroma yang khas.

Minyak atsiri merupakan bahan dasar dari wangi-wangian atau minyak gosok (untuk pengobatan) alami. Di dalam perdagangan, hasil sulingan (destilasi) minyak atsiri dikenal sebagai bibit minyak wangi. Para ahli biologi menganggap minyak atsiri sebagai metabolit sekunder yang biasanya berperan sebagai alat pertahanan diri agar tidak dimakan oleh hewan (hama) ataupun sebagai agensia untuk bersaing dengan tumbuhan lain dalam mempertahankan ruang hidup. Walaupun hewan kadang-kadang juga mengeluarkan bau-bauan (seperti kesturi dari beberapa musang atau cairan yang berbau menyengat dari beberapa kepik), zat-zat itu tidak digolongkan sebagai minyak atsiri.

Minyak atsiri biasanya dinamakan menurut sumber utamanya, antara lain:

  • Minyak adas (fennel/foeniculi oil)
  • Minyak cendana (sandalwood oil)
  • Minyak bunga cengkeh (eugenol oil) dan minyak daun cengkeh (leaf clove oil)
  • Minyak kayu putih (cajuput oil)
  • Minyak bunga kenanga (ylang-ylang oil)
  • Minyak lawang
  • Minyak mawar
  • Minyak nilam
  • Minyak serai

Penggunaan minyak atsiri tidak terbatas pada pembuatan parfum saja, namun juga dikembangkan sebagai bahan obat-obatan, pestisida, dan bahan baku sintesis senayawa lainnya. Sebagai pestisida, minyak atsiri memiliki kemampuan untuk mengendalikan pertumbuhan hama, antara lain serangga, jamur, dan bakteri.

Kemampuan ini juga dapat diterapkan pada konservasi cagar budaya, karena beberapa jenis material cagar budaya perlu dikonservasi dengan mengendalikan pertumbuhan organisme perusaknya. Berbagai penelitian telah dikembangkan antara lain pemanfaatan minyak atsiri untuk mematikan rayap, jamur kerak, atau jamur yang dapat merusak cagar budaya.

Penelitian yang dilakukan untuk pengendalian organisme pada Candi Borobudur juga dilakukan, yaitu untuk mematikan jamur kerak (lichens).

MINERAL SEKUNDER

merupakan mineral-mineral ubahan dari mineral primer, dapat berasal dari hasil pelapukan, hidrotermal maupun metamorfisme terhadap mineral-mineral primer. Dengan demikian mineral-mineral ini tidak ada hubungannya dengan pembekuan magma.

Mineral sekunder yang muncul pada batu Candi Borobudur yang lapuk adalah mineral kaolinit (jenis mineral lempung) merupakan hasil lapukan dari mineral plagioklas.

MINERAL PRIMER

merupakan mineral yang terbentuk langsung dari kristalisasi magma. Mineral primer terdiri dari mineral utama dan mineral tambahan. Mineral utama merupakan mineral primer yang kehadirannya sangat menentukkan dalam penamaan batuan.

Sedangkan mineral tambahan merupakan mineral primer yang jumlahnya sedikit dan tidak menentukan nama batuan. Mineral utama pada batu Candi Borobudur antara lain adalah plagioklas dan piroksen.

MINERAL

adalah zat padat yang terdiri dari unsur atau persenyawaan kimia yang dibentuk secara alamiah oleh proses-proses anorganik, mempunyai sifat-sifat kimia dan fisika tertentu dan mempunyai penempatan atom-atom secara beraturan di dalamnya.

Batu andesit penyusun Candi Borobudur memiliki komposisi mineral tertentu seperti plagioklas dan piroksen.

Shopping Basket