FASAD = FACADE (ING)

Merupakan wajah depan bangunan atau sisi bangunan yang menghadap ke jalan utama; mempunyai nilai arsitektural yang spesifik.

Candi Borobudur merupakan bangunan berdenah persegi dan berbentuk piramida sehingga memiliki empat sisi yang sama, fasad yang sama. Namun, walapun Candi Borobudur mempunyai tangga masuk di keempat sisinya, pintu masuk Candi Borobudur berada di sebelah Timur dan juga arah baca relief dimulai dari Timur, oleh karena itu fasad utama Candi Borobudur berada di sebelah Timur.

DRAINASE

adalah usaha untuk mengontrol kualitas air tanah dalam kaitannya dengan salinitas, dimana drainase merupakan salah satu cara pembuangan kelebihan air yang tidak di inginkan pada suatu daerah, serta cara-cara penaggulangan akibat yang ditimbulkan oleh kelebihan air tersebut.

Drainase Permukaan Tanah (Surface Drainage). Saluran drainase yang berada di atas permukaan tanah yang berfungsi mengalirkan air limpasan permukaan. Analisa alirannya merupakan analisa open chanel flow. Drainase Bawah Permukaan Tanah (Subsurface Drainage) adalah saluran drainase yang bertujuan mengalirkan air limpasan permukaan melalui media dibawah permukaan tanah (pipa-pipa), dikarenakan alasan-alasan tertentu. Alasan itu antara lain tuntutan artistik, tuntutan fungsi permukaan tanah yang tidak membolehkan adanya saluran di permukaan tanah seperti lapangan sepak bola, lapangan terbang, taman dan lain-lain.


Pada awalnya, Candi Borobudur dibangun dengan sistem drainase yang cukup bagus. Air hujan yang jatuh ke lantai candi dialirkan ke lantai dibawahnya melalui jaladwara/gargoyle, kemudian setelah sampai bawah di alirkan ke bukit. Namun fungsi saluran air tersebut tidak berfungsi lagi setelah ditemukan kembali oleh Raffles karena struktur bangunannya mengalami kerusakan (miring, retak, bergelombang) yang diakibatkan oleh alam.

Pada pemugaran kedua, akhirnya diterapkan sistem drainase baru dengan dibuatkan pipa saluran yang dialirkan ke lantai di bawahnya sampai ke bawah bukit dengan dibuatkan sumur peresapan. Untuk mengontrol lancar atau tidaknya air buangan, dibuatkan bak control yang dapat dicek sewaktu-waktu.


Sistem drainase baru yang dibuat pada pemugaran Candi Borobudur tahap II

DENAH

Merupakan gambar yang menunjukkan letak kota, jalan, dan sebagainya; peta; gambar rancangan (rumah, bangunan, dan sebagainya).

Candi Borobudur memiliki denah persegi dengan ukuran 121,66 m, lebar 121,38 m dan tinggi 35,40 m. Terdiri atas 10 lantai, dengan lantai 1-7 berdenah persegi, sedangkan lantai 8-10 berdenah lingkaran.


Gambar denah Candi Borobudur

COUNTERWEIGHT BERMS

atau disebut sebagai metode bahu tekan (pressure berms) adalah dengan menambahkan beban pada sisi timbunan untuk menaikkan perlawanan terhadap longsoran atau geseran lateral.

Stabilitas struktur bukit Candi Borobudur juga mengadopsi konsep dan metode Counterweight ini untuk menjaga ancaman kelongsoran lereng dan bukit mengingat letak struktur dan susunan batu candi Borobudur yang terletak pada bukit sehingga rawan terhadap kelongsoran tebing.


Ilustrasi counterwieght berms pada Candi Borobudur

CHATTRA

merupakan anatomi stupa yang posisinya berada paling atas. Chattra dapat berbentuk payung bersusun tiga di atas yasti. Pada dasarnya, sebuah stupa terdiri atas sebuah kubah (dome), yang diletakan di atas sebuah alas (base) yang ditinggikan dalam satu atau dua tingkat, dan di atas kubah tersebut terdapat sebuah harmika(tanah berpagar) yang terdiri atas dasar harmika dan sebuah as roda atau batang yang menopang payung-payung (Chattra) atau roda-roda berbentuk bulat.


Pada masa India kuna, jumlah Chattra atau roda di atas kubah stupa adalah tiga belas buah, yang merupakan simbol tertinggi dari suatu kerajaan dan suatu tanda penghormatan bagi seorang Raja Penguasa Dunia atau kerajaan dengan daerah kekuasaan yang sangat luas. Dalam prakteknya, bentuk dari kubah, alas, harmika, dan payung-payung diatasnya (Chattra) dapat beragam tergantung dari maksud dan tujuan didirikannya stupa, budaya lokal, ketrampilan dari pengrajin lokal, dan keyakinan masyarakat setempat.

Dengan demikian, tidaklah mengherankan apabila bentuk dan gaya arsitekstur stupa dapat berbeda antar negara, bahkan antar daerah dalam suatu negara. Kita dapat mengamati hal tersebut misalnya dengan cara membandingkan stupa-stupa yang terdapat di negara-negara Asia dimana ajaran Buddha pernah atau masih berkembang, misalkan India, Sri Lanka, Thailand, Kamboja, Nepal, Tibet dan Indonesia.

Apakah stupa puncak Candi Borobudur mempunyai chattra atau tidak, sejauh ini masih belum ada kesepakatan di antara para ilmuwan arkeologi. Gagasan mengenai chattra Candi Borobudur dikemukakan pertama kali oleh Van Erp pada tahun 1931. Gagasan tersebut kemudian dituangkan dalam bentuk rekonstruksi stupa induk dengan tiga susun chattra dan ditambah susunan batu sebanyak 9 lapis di bawahnya.

Namun karena oleh beberapa ahli keberadaan chattra diragukan dan karena susunan batu 9 lapis di bawah chattra kini telah hilang, maka rekonstruksi Van Erp saat ini tidak disusun pada Candi Borobudur. Saat ini chattra masih bisa dilihat pada Museum Borobudur di Taman Wisata Candi Borobudur.


Chattra yang pernah dipasang di puncak Candi Borobudur