KINNARI

Merupakan Kinnara berjenis kelamin perempuan. Kinnari berwujud wanita cantik dari kepala sampai pinggang, namun bagian tubuh ke bawah berwujud angsa. Mereka pandai bersyair, memainkan alat musik, dan menari.

Mitologi tentang Kinnara-Kinnari banyak muncul di wilayah Asia Tenggara, khususnya yang mendapat pengaruh Hindu dan Buddha, seperti Thailand, Kamboja, Myanmar, dan Indonesia. Di Candi Borobudur, terdapat relief yang menggambarkan Kinnara-Kinnari. Selain itu, relief Kinnara-Kinnari juga dapat ditemukan di Candi Mendut, Pawon, Sewu, Sari, dan Prambanan.


Wujud Kinnari pada relief Candi Pawon

KEMELESAKAN

adalah kondisi deformasi pada struktur bangunan yang tidak stabil dan cenderung tidak rata karena tenggelam ke tanah. Kemelesakan pada struktur candi bisa terjadi karena faktor internal dan eksternal. Beban struktur dan kondisi kestabilan tanah merupakan faktor utama penyebab kemelesakan.


Candi Borobudur juga pernah mengalami kemelesakan pada strukturnya pada saat sebelum dilakukannya pemugaran II. Kemelesakan pada Candi Borobudur banyak terjadi pada dinding candi dan lorong candi. Selain itu, pada masa penemuan kembali Candi Borobudur sekitar tahun 1814, kemelesakan juga diketahui terjadi pada area stupa teras (Arupadhatu). Hal ini dapat diketahui dari foto yang diambil oleh Pemerintah Kolonial Belanda sebelum dan sesudah pemugaran I (1907-1911).


Berdasarkan foto tersebut, diketahui bahwa sebagian besar lantai pada stupa teras telah melesa sehingga bentuknya bergelombang. Oleh van Erp selaku ahli yang memimpin pemugaran I Candi Borobudur, kemelesakan tersebut ditanggaulangi dengan cara mengaplikasikan mortar tradisional pada lantai lorong dan lantai stupa teras.


Aplikasi mortar tersebut dimaksudkan untuk membuat lantai candi yang melesak menjadi rata dengan menambahkan pasangan batu baru pada permukaan lantainya. Pada pemugaran Candi Borobudur yang kedua (1973-1983) kemelesakan pada dinding candi ditanggulangi dengan membuat metode perkuatan struktur menggunakan plat beton di bawah lantai candi. Hingga saat ini metode perkuatan tersebut masih dinilai efektif untuk menjaga kestabilan struktur Candi Borobudur.


Kondisi Candi Borobudur sebelum pemugaran tahap I

KEBEN

adalah bagian kemuncak pada pagar langkan tingkat I Candi Borobudur, yang berbentuk seperti buah keben. Keben merupakan buah berbentuk kotak mirip piramida, yang dihasilkan dari pohon keben atau butun dengan nama ilmiah Barringtonia asiatica.


Pohon keben memiliki ciri-ciri merupakan pohon berkayu lunak memiliki diameter sekitar 50 cm dengan ketinggian 4-16 meter. Bentuk daunnya cukup besar, mengkilap dan berdaging, daun muda berwarna merah muda dan akan berubah menjadi kekuningan setelah tua. Bagian luar buah keben terdiri dari kulit berserabut dan di dalamnya terdapat tempurung. Dalam tempurung terdapat sebutir biji yang keras, berlendir dan berwarna putih. Buah keben memiliki bunga selebar 16 cm yang berwarna putih dengan benang sari berwarna merah muda. Buah keben berwarna hijau ketika muda dan akan menjadi kecokelatan setelah tua dan kering.


Keben merupakan ornamen hias arsitektural pada kemuncak struktur pagar langkan, struktur pagar halaman, ataupun struktur pembatas ruang. Pada Candi Borobudur, keben hanya dijumpai pada pagar langkan I.


Foto buah Keben


Keben sebagai ornamen hias arsitektural Candi Borobudur

KARMAWIBHANGGA

Pada tahun 1885, Ir. Ijzerman yang merupakan ketua Archaelogische Vereeniging secara tidak sengaja menemukan kembali relief yang berada pada kaki candi yang telah tertutup oleh struktur batu selasar dan undag. Relief tersebut kemudian disebut dengan relief Karmawibhangga. Keletakan relief berada di sekeliling kaki candi dengan jumlah panil sebanyak 160 buah. Setelah itu, pada tahun 1890, kaki candi yang berhias relief tersebut didokumentasikan dengan pemotretan pada tiap panilnya.


Karmawibhangga adalah cerita pada relief tersembunyi di dinding kaki Candi Borobudur yang menggambarkan sebab akibat dari perbuatan baik dan buruk. Jadi, setiap perbuatan manusia yang jahat atau tidak baik akan mendapat pembalasan berupa siksaan di neraka, dan bagi manusia yang berbuat baik semasa hidupnya akan mendapat ganjaran di surga. Mengenai penyebab ditutupnya relief Karmawihangga oleh pendukung kebudayaan Candi Borobudur, masih menjadi hal yang diperdebatkan oleh para ahli. Ada yang berpendapat bahwa relief ini terkesan vulgar dan sadis sehingga tidak layak disaksikan. Ahli yang lain menyatakan bahwa penutupan relief dikarenakan alasan teknis struktur candi. Hal ini dipahami karena dimungkinkan bagian kaki candi runtuh/melesak karena kelebihan beban, sehingga struktur kakinya harus diperkuat dengan penambahan selasar dan undag.


Dari posisinya yang berada pada kaki candi, relief Karmawibhangga dipahatkan berdasarkan kitab Mahakarmawibhangga. Kitab ini berisi tentang hubungan sebab akibat di dalam kehidupan manusia baik di dunia dan di akhirat. Setiap panil pada relief Karmawibhangga selalu merupakan lukisan dari hal tersebut. Bagian panil sebelah kanan merupakan sebab dan bagian kirinya adalah akibatnya. Hal tersebut dapat diketahui secara pasti dikarenakan adanya inskripsi pendek berbahasa Sanskerta yang merupakan panduan bagi pemahat untuk memahat relief pada bidang kaki candi. Sedangkan inskripsi pendek yang dijumpai pada sebagian panil relief Karmawibhangga, dapat menjadi petunjuk yang jelas bahwa penutupannya dikarenakan alasan teknis.


Bernet Kempers (1976) berpendapat bahwa relief Karmawibhangga adalah gambaran yang sebenarnya dari kehidupan sehari – hari masyarakat Jawa Kuna khususnya pada abad VIII – IX. Adegan pada panil relief tersebut menyimpan banyak informasi. Informasi tersebut di antaranya mengenai flora dan fauna, lingkungan alam, bentuk pakaian dan status sosial, alat musik, alat upacara, alat transportasi, arsitektur bangunan, peranan wanita, senjata, payung. Kesemua informasi tersebut mengarahkan kita pada teknologi dan kearifan budaya masyarakat Jawa Kuna terhadap lingkungan.

KAMADHATU

adalah tingkatan paling bawah dari tingkatan kosmologi Buddha (simbol dunia hasrat). Tingkat kamadhatu pada Candi Borobudur merupakan bagian kaki candi. Kaki Candi Borobudur yang kita lihat saat ini bukanlah kaki aslinya pada saat di bangun pertama kali. Bagian kaki candi saat ini adalah struktur batu-batu tambahan guna menyangga beban (counter weight) struktur Candi Borobudur pada saat struktur candi diasumsikan akan melesak sebelum pembangunannya diselesaikan.


Pada tahun 1885, J.W. Ijzerman secara kebetulan menemukan kembali relief karmawibhangga pada bagian kaki Candi Borobudur. Di sudut Tenggara Candi Borobudur, sebagian kaki bangunan aslinya sekarang masih dapat dilihat (dibuka pada masa pendudukan Jepang). Seperempat dari keseluruhan relief karmawibhangga yang berjumlah 160 panil, di atasnya masih dijumpai inskripsi (tulisan singkat) pada bagian atas panilnya. Oleh para arkeolog inskripsi ini merupakan petunjuk bagi ahli pahat (taksaka) untuk memahatkan cerita pada kaki candi. Sehingga besar kemungkinan ketika pekerjaan pemahatan itu belum selesai, Candi Borobudur mulai melesak, sehingga terpaksa harus segera ditutup kaki aslinya.

Profil Candi Borobudur secara umum terdiri dari pelipit dan ojief (sisi setengah genta). Bagian kaki yang berbatasan langsung dengan tanah adalah lapik, sedangkan diatasnya adalah pelipit.


Bagian kaki Candi Borobudur

KALA

Pada candi-candi era Mataram Kuna Periode Jawa Tengah hingga Majapahit, kala-makara merupakan elemen arsitektural yang banyak dijumpai. Secara teknis, balok batu yang berpahatan kala-makara merupakan elemen penting dari sebuah percandian. Hal ini karena kala-makara biasanya dipahatkan pada bagian gapura, pintu masuk, maupun relung arca.


Secara konseptual kala adalah perwujudan dari raksasa dengan wajah seram, mata melotot, gigi bertaring, dan rambut yang digambarkan sebagai api. Berdasarkan mitologinya, kala adalah penguasan dunia atas yang berfungsi sebagai penolak bala terhadap niat-niat buruk yang merusak. Kala juga melambangkan waktu, maut, dan hitam. Pada struktur candi, kala biasanya diletakkan pada bagian atas pintu masuk atau ambang atas tangga candi.


Kala dapat digambarkan dengan rahang bawah atau tanpa rahang bawah dengan ukiran tangan seperti akan menerkam. Kala pada doorpel (ambang atas pintu tangga) pada Candi Borobudur digambarkan tanpa rahang bawah. Selain pada ambang atas pintu tangga candi, kala pada Candi Borobudur juga digunakan sebagai jaladwara (saluran air) dan terdapat pada ambang atas tangga candi.

Gambar Kala pada gapura Candi Borobudur

JATAKA

Pada struktur Candi Borobudur, relief cerita jataka dan avadana dipahatkan pada dinding utama lorong I, dan pagar langkan lorong I dan II. Jataka adalah kisah tentang Sang Bodhisatwa yang mengalami kelahiran berulang kali dalam berbagai wujudnya untuk membantu manusia mencapai jalan keBuddhaan. Singkatnya, Jataka adalah kisah mengenai Sang Buddha dalam penjelmaan-penjelmaannya terdahulu. Dalam kisah-kisah itu Sang Bodhisatwa baik sebagai manusia maupun hewan selalu mencontohkan kepada kebenaran dan ajaran tentang dharma. Adapun avadana adalah cerita yang sama dengan Jataka. Hanya saja pelaku utamanya bukan Sang Bodhisatwa melainkan tokoh lain atau hewan biasa yang bukan jelmaan Bodhisatwa.

JALADWARA

Jaladwara secara teknis merupakan saluran yang berguna untuk mengalirkan air hujan yang menerpa bangunan ataupun struktur candi dari bagian atas (atap) ke bagian struktur candi yang berada dibawahnya (tubuh atau selasar) hingga ke halaman candi. Pada bangunan percandian, jaladwara biasanya ditempatkan pada sudut-sudut atap ataupun sudut-sudut dinding tubuh candi maupun pagar langkan. Istilah arsitektur untuk penyebutan jaladwara adalah gorgoyle. Istilah gorgoyle digunakan pada bangunan di era yang lebih muda. Secara konseptual apabila dihubungkan dengan struktur maupun bangunan percandian, jaladwara diwujudkan dalam bentuk kala ataupun makara. Penggunaan bentuk jaladwara berupa kala atau makara mempunyai maksud untuk menangkal pengaruh dan anasir negatif pada atap candi maupun struktur candi yang berada padda bagian dibawahnya.

Jaladwara pada Candi Borobudur diwujudkan dalam bentuk yang variatif. Bentuk antefik dijumpai pada pagar langkan selasar. Jaladwara berbentuk makara yang disangga oleh ghanadijumpai pada pagar langkan I. Sedangkan jaladwara berbentuk kala dijumpai pada pagar langkan II, III, IV, dan V.

INSKRIPSI

Adalah tulisan pendek yang terpahat pada batu atau bahan lainnya. Inskripsi pada Candi Borobudur terdapat pada bagian kaki Candi yang tertutup yaitu pada bagian atas panil relief karmawibhangga. Inskripsi tersebut berbahasa Sansekerta. Inskripsi tersebut merupakan panduan bagi pemahat untuk memahat relief pada bidang kaki candi. Inskripsi pendek yang dijumpai pada sebagian panil relief Karmawibhangga dapat menjadi petunjuk yang jelas bahwa penutupan kaki candi dikarenakan alasan teknis.

Di sekitar Candi Borobudur juga ditemukan lempengan timah hitam, perak, perak+emas yang terdapat inskripsi di dalamnya ketika dilakukan penggalian masal pada masa pemugaran II.

Shopping Basket