MONUMEN

Merupakan tugu peringatan; bangunan yang mempunyai nilai sejarah; bangunan atau tempat yang mempunyai nilai sejarah yang penting dan karena itu dipelihara dan dilindungi negara.

Candi Borobudur dibangun sekitar abad VIII-IX Masehi pada masa Dinasti Syailendra. Candi ini didirikan oleh para penganut Buddha aliran Mahayana. Berbentuk piramida dengan dinding yang berhias relief dan pada 3 lantai teratasnya terletak 72 stupa dengan stupa besar di tengahnya.

Candi Borobudur menjadi salah satu monumen Buddha terbesar di dunia.


Salah satu monumen Buddha terbesar di dunia

MANDALA

Pengertian mandala sangat luas. Beberapa pengertian mandala menurut Zoetmulder, yaitu dalam bahasa Sansekerta dapat berarti anything round, disk, circle, globe, ring, circum, disrtict, teritory, provience, country, multitude, collection, wholebody. Dalam teks-teks Tibet, mandala diterjemahkan sebagai pusat atau apa yang mengelilingi.


Di China, mandala diterjemahkan sebagai mant’u-lo atau t’an yang berarti teras, panggung, dunia, arena atau yang diterjemahkan sebagai Tao tch’ang yang artinya sama dengan BodhimandalaMandala adalah pusat dunia, sebuah arca yang batas-batasnya telah ditentukan atau semacam pagar suci. Mandala adalah totalitas, suatu tanda kesempurnaan dan kemuliaan.

P.H. Pot melambangkan mandala sebagai konfigurasi kosmis yang terletak di pusat sebuah area, atau pengganti simbol dari dewa terkemuka yang dikelilingi oleh sejumlah dewa-dewa yang kedudukannya lebih rendah. Konfigurasi tersebut dipakai sebagai tujuan-tujuan meditasi dalam ritual dan dianggap sebagai wadah dewa-dewa.

Berkaitan dengan agama Buddha, mandala berkaitan dengan kosmogram yang dipakai dalam Buddha Tantris untuk tujuan-tujuan meditasi, visualisasi, atau inisiasi. Pada umumnya diwujudkan dalam gambar atau dilukis, tetapi bisa juga dibuat dalam bentuk tiga dimensi. Terdiri dari bentuk-bentuk simetris dan konsentris ditata persegi-persegi dan lingkaran yang disusun dengan posisi hirarkis dewa-dewa. Dewa utama menempati pusat mandala.


Pada dasarnya mandala bukan semata-mata dikenal oleh sekte Buddhisme Tantris saja, tetapi juga ada pada stupa-stupa Hinayana dan dalam sekolah-sekolah non Tantris Mahayana. Sebagai contoh, mandala dari sebuah stupa Hinayana Mahavamsa yang berhubungan dengan bagaimana Raja Duttagamani di Srilangka. Sebuah arca Buddha duduk di bawah pohon Bodhi dari emas, perak, dan batu-batu mulia, tujuh Buddha yang lain, lapisan Tujuh wilayah Sorga.

Sebagai bangunan tunggal, mandala Borobudur adalah merupakan perpaduan antara garbhadhatu mandala dan vajradhatu mandala yang bisa dilihat dari bentuk teras lingkar yang berada pada tingkat arupadhatu. Tiga teras melingkar tersebut tidak seutuhnya berbentuk lingkaran tetapi agak lonjong karena para pendiri candi mengambil konsep garbhadhatu mandala yang berbentuk persegi kemudian ditransformasikan ke dalam konsep vajradhatu mandala yang berbentuk lingkaran. Selain itu, keberadaan arca dhiyani Buddha dengan simbol sikap tangan (mudra) yang merupakan doktrin dari vajradhatu mandala yang biasa disebut karma mandala.


Sebagai pusat dari suatu mandala besar, Candi Borobudur merupakan super stuktur dari bangunan-bangunan yang ada di sekitarnya, baik itu bangunan yang berlatar belakang agama Buddha maupun bangunan yang berlatar belakang agama Hindu.

Walaupun bangunan-bangunan tersebut didirikan oleh dua raja yang berlatar belakang agama yang berbeda, tetapi kedua agama tersebut sama-sama mengenal adanya konsep mandala. Seperti pendapat Snodgrass yang mengatakan bahwa mandala adalah pusat sesuatu yang dikelilingi, maka jelas sekali terlihat kalau Candi Borobudur adalah pusat dari suatu mandala.

Berkaitan dengan usaha penataan ulang Borobudur menggunakan konsep mandala, hal itu tidak dapat dilakukan karena mandala sendiri adalah sesuatu yang sangat abstrak dan tidak mempunyai ukuran luas. Bagaimana sebuah konsep yang abstrak itu digunakan untuk membuat suatu mintakat (zona) yang mempunyai batasan, sedangkan mandala sendiri tidak terbatas.


Gambar di atas menunjukkan transformasi Mandala Candi Borobudur

MAKARA

Berdasarkan mitologi India makara adalah binatang laut yang perwujudanya merupakan perpaduan dari berbagai binatang di antaranya gajah, ular, buaya, dan naga. Pada percandian di Indonesia penggambaran makara berbentuk seperti kepala gajah mempunyai belalai dihias dengan ornamen sulur-suluran.

Di Jawa Tengah penggambaran makara biasanya berupa kepala dengan rahang dan gigi yang besar. Pada Candi Borobudur perwujudan makara juga digunakan sebagai jaladwaraMakara pada gapura dan relung terdapat pada sisi kanan dan kirinya.

Berdasarkan konsepnya, makara adalah makhluk dari dunia bawah yang berfungsi sebagai penolak bala terhadap energi-energi negatif yang akan memeasuki candi.


Kala – Makara pada gapura Candi Borobudur

LAYER

Merupakan sebuah lapisan. Pada pemugaran kedua Candi Borobudur, dilakukan upaya pencegahan terhadap pengaruh dari luar atau faktor eksternal yang berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi keselamatan struktur dan batuan Candi Borobudur dengan memasang pipa saluran air dan lapisan pelindung sebagai berikut:

  • Lapisan saringan (filter layer), untuk menahan perembesan air yang mengalir ke permukaan batu luar. Filter layer ini dibuat di atas sepanjang pelat beton yang menempel pada tanah bukit, dengan ukuran tinggi 3-4 lapis batu dengan lebar ± 40 cm. Filter layer ini berisi dua macam butiran pasir, di bagian bawah Ø 0,5-1 mm dan di bagian atas Ø 0,1-0,5 mm. Di sepanjang filter layer, pada setiap interval 5 m terdapat saluran menuju ke luar lantai lorong yang dilapisi dengan ijuk dan teram. Pemasangan filter layer ini volumenya mencapai 2.500 m3.
  • Pipa saluran air (drainage pipe), untuk mengalirkan air hujan dan perembesan air yang tertampung di dalam filter layer. Pipa saluran ini terbuat dari pipa beton Ø 30 cm yang di bagian luarnya dilapisi araldite. Pipa vertikal dibuat rangkap menggunakan pipa paralon, pada sambungan pipa ditutup dengan sisal kemudian dicor dengan aspal bitumen. Setiap sisi candi dipasang 5 pipa saluran air menuju halaman sekitar candi. Panjang pemasangan pipa saluran ini mencapai 700 m.
  • Lapisan kedap air “A” (Layer A), untuk menahan rembesan air yang tertampung dalam filter layer kedalam tumpukan batu di depannya. Layer A ini terbuat dari susunan batu isian yang menempel pada tanah bukit yang permukaannya dilapisi araldite tar. Celah­-celah sambungan batu ditutup dengan mortar araldite menggunakan bahan campuran perbandingan 1 araldite : 3 pasir. Pemasangan Layer A ini volumenya mencapai 7.000 m3.
  • Lapisan kedap air “B” (Layer B), berguna untuk mengurangi genangan air sampai taraf sekecil-kecilnya dimana air lengas mengalir ke batuan sebelah luar dan juga berfungsi sebagai penahan tingkat kedua untuk air lengas atau bahan-bahan lain yang berasal dari inti bukit. Layer B ini letaknya ± 80 cm dari permukaan batu luar, konstruksinya sama seperti Layer A. Pemasangan layer B ini volumenya mencapai 9.000 m3.
  • Lapisan kedap air “C” (Layer C), untuk menanggulangi kemungkinan adanya rembesan air lewat pori-pori pelat beton. Layer C ini terbuat dari lapisan aspal bitumen R 115/115 setebal 2 cm. Celah-celah nat batu di bawah Layer C ditutup dengan aspal pasir (sand asphalt) menggunakan bahan campuran asphalt AC 60/70 dan pasir. Layer C ini letaknya berada di bawah pelat beton lantai lorong (lebar ± 3 m), pada bagian pelat beton yang berada tepat di bawah kedudukan dinding (lebar ± 2 m), di atasnya dilapisi beton tumbuk tebal 8 cm untuk lantai kerja, menggunakan bahan campuran 1 PC : 3 pasir : 5 kerikil. Pemasangan layer C ini volumenya mencapai 12.000 m3.

Lapisan timah (lead sheet), untuk menahan kapilarisasi air yang kemungkinan menggenang di pipa saluran air atau lantai lorong agar tidak merembes ke batuan dinding dan pagar langkan. Lapisan timah ini dipasang di bawah pagar langkan dan dinding candi dengan ketebalan 2 mm.

Lapisan timah di bawah dinding terdiri dari 3 bagian, masing-masing lebar 35 cm dengan jarak 2 cm, sedangkan lapisan timah di bawah pagar langkan, pada bagian depan lebar 1 m, sedangkan pada bagian belakang terdiri dari dua bagian dengan lebar 25 cm.


Gambar kerja yang menunjukkan letak layer pada Candi Borobudur

LANTAI

merupakan permukaan dasar dari sebuah ruang; bagian bawah (alas, dasar) suatu ruangan atau bangunan (terbuat dari papan, semen, ubin, dan sebagainya); tingkatan pada gedung bertingkat.

Candi Borobudur merupakan struktur bangunan yang terdiri atas 10 lantai. Lantai 1 yang dinamakan undag, dan lantai 2 yang dinamakan selasar merupakan bagian kaki candi atau Kamadhatu. Lantai 3 – 7 merupakan bagian tubuh candi atau Rupadhatu. Lantai 8 – 10 dinamakan teras, merupakan bagian puncak candi atau Arupadhatu.


Gambar bagian Candi Borobudur

KONSEP

Merupakan rancangan, ide atau pengertian yang diabstrakkan dari peristiwa konkret. Candi Borobudur merupakan bangunan berkonsep piramida yang dikenal dengan sebutan punden berundak. Jumlah kesepuluh lantainya, berkaitan dengan ajaran Dasabhumi dalam Buddhisme Mahayana, yaitu sepuluh tingkat perkembangan Boddhisattwa berupa sepuluh tindakan penyempurnaan yang harus dilakukan oleh Boddhisattwa untuk mencapai ke-Buddha-an.


Menurut Daigoro Chihara, di tahap awal pembangunannya Candi Borobudur mengikuti konsep Enam Paramitha (berbagai kebajikan demi penyempurnaan) dan kemudian di tahap – tahap akhir baru diperhatikan ketentuan Sepuluh Paramitha. Selain konsep diatas, menurut Daigoro Chihara, Soekmono dan Bernert Kempers; Candi Borobudur juga melambangkan sebuah Mandala.

Mandala dapat diartikan suatu objek yang luas yang berfungsi sebagai alat meditasi yang diwujudkan dalam sebuah konfigurasi kosmis, dimana pada bagian pusatnya terdapat tokoh dewa atau simbol dewa tertinggi yang dikelilingi oleh sejumlah dewa yang secara hierarkis kedudukannya lebih rendah.

KNOCKDOWN

Merupakan sistem bongkar pasang pada konstruksi. Candi Borobudur dibangun di atas sebuah bukit dengan menggunakan material batu andesit. Tumpukan batu tersebut disusun tanpa menggunakan semen maupun perekat.

Sistem yang digunakan pada susunan batu tersebut adalah sistem knockdown sehingga susunan batu tersebut dapat dibongkar dan dipasang lagi. Agar masing-masing batuan saling terkait, terdapat sistem sambungan antar batuan.

Jenis sambungan batu yang ada pada Candi Borobudur ada empat, yaitu:

  1. Sambungan batu dengan tipe ekor burung. Sambungan tipe ini dijumpai hampir pada setiap batu dinding.
  2. Sambungan batu dengan tipe takikan. Sambungan ini banyak terdapat pada kala, doorpel, relung, dan gapura.
  3. Sambungan dengan tipe alur dan lidah. Sambungan ini terdapat pada pagar langkan selasar dan batu ornamen makara di kanan dan kiri tangga undag dan selasar.
  4. Sambungan batu dengan tipe purus dan lubang. Sambungan ini banyak terdapat pada batu antefik dan kemuncak pagar langkan.

Sambungan batu tipe ekor burung

Shopping Basket