BIODETERIOGEN

adalah organisme yang dapat menyebabkan perubahan material cagar budaya yang tidak diinginkan. Prosesnya disebut dengan biodeteriorasi. Biodeteriogen dapat berupa algae, lichens, lumut, jamur, dan tanaman tingkat tinggi.

Biodeteriogen dapat menyebabkan kerusakan baik secara mekanikal maupun struktural. Kerusakan mekanikal dan struktural biasanya disebabkan oleh adanya penetrasi akar dari tanaman. Sedangkan mikroorganisme seperti algae dan lumut dapat menyebabkan terjadinya perubahan warna (diskolorisasi).


Biodeteriorasi batuan dapat dikategorikan menjadi tiga bagian, yaitu biofisik, biokemikal, dan kerusakan estetis. Ketiga proses tersebut dapat berlangsung terpisah maupun berkelanjutan tergantung pada komposisi batuan, kondisi lingkungan, dan biodeteriogen sendiri.

Deteriorasi biofisik batuan terjadi akibat adanya tekanan pada daerah permukaan batuan yang disebabkan oleh pertumbuhan atau pergerakan bagian organisme pada batu, seperti hifa dan system perakaran. Hifa dan system perakaran menekan masuk ke dalam batuan melalui celah yang sudah terbentuk (crack), menyebabkan permukaan batuan stress dan akhirnya menimbulkan kerusakan fisik, seperti terjadinya fragmentasi batuan candi.


Deteriorasi biokemikal dihasilkan karena adanya proses asimilasi. Organisme mengambil dan menggunakan nutrisi pada permukaan batuan dan selanjutnya organisme menghasilkan metabolit yang dapat bereaksi dengan permukaan batuan secara kimiawi.

Deteriorasi estetis disebabkan karena adanya pertumbuhan populasi biologis di permukaan batuan yang dapat merubah warna permukaan batuan. Seperti adanya pembentukan patina algae pada permukaan batuan sehingga menyebabkan permukaan berubah warna dari abu-abu menjadi hijau pekat.

Tags: No tags

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *